warung kopi pangku Tulungagung.

 Welcome To Paradise

                   Indonesia  adalah sebuah negara dengan keanekaragaman budaya yang sangat melimpah, terbukti setiap daerah di negri ini memiliki cirri khas budaya yang tentunya berbeda dengan  kawasan atau daerah lain. Tak jarang perbedaan budaya antar daerah terkesan sangat mencolok bahkan kadang terkesan kontras, namun hal ini merupakan sebuah anugrah bagi bangsa Indonesia. Keanekaragaman yang ada di Negara ini bisa dikatakan merupakan magnet utama industry pariwisata di negri dengan jumlah penduduk sekitar 241 juta jiwa ini. Sampai saat ini pariwisata merupakan sumber Pemasukan devisa negara yang cukup besar, selain dari agribisnis                         ( perkebunan dan perikanan ) dan tentunya juga pajak.

Layaknya sebuah sifat yang melekat pada diri manusia, tiap daerah juga dikenal dari sesuatu yang menjadi cirri khas daerah tersebut. Misalkan saja ketika disebut kesenian ondel-ondel maka akan dihubungkan dengan  daerah betawi, atau ketika disebut  nama makanan Rendang maka akan terbersit di pikiran kita daerah Sumatra barat khususnya padang. Namun tak selamanya sebuah daerah dikenal dengan produk unggulan atau sesuatu yang membanggakan dari daerah tersebut, beberapa daerah justru dikenal karena sebuah insiden kelam yang pernah terjadi di daerah tersebut. Misalkan saja Sampit, sebuah daerah yang justru santer terdengar ke telinga public karena konflik antar suku yang pernah terjadi di daerah tersebut.

Begitupun dengan Tulungagung, sebuah kabupaten yang terletak 154 km barat daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Daerah ini dikenal sebagai pengahasil marmer, sebuah barang tambang yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.  Label kota marmer yang disematkan kepada kabupaten Tulungagung tentu tidak salah, sebab dari data hasil penelitian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral jumlah batu marmer Tulungagung berkisar 382.050.000 , sebuah jumlah yang tentunya tidak sedikit.  Namun fakta tersebut tak membuat Tulungagung selalu dicirikan dengan marmernya, ada beberapa orang yang justru mengenal Tulungagung dari sisi lain kabupaten ini, Warung Kopi.

Dalam catatan yang dimiliki Paguyuban Warung dan Hiburan se-Tulungagung (Pawahita), jumlah warung kopi di Tulungagung  sekitar 7.000 unit. jumlah yang fantastis untuk ukuran kabupaten kecil yang memiliki 19 kecamatan ini, namun jumlah tersebut  mungkin masih terlampaui oleh daerah lain di Negri ini, lantas apakah yang membuat warung kopi Tulungagung begitu terkenal. MAMAN, seorang warga Kediri yang pernah cukup lama tinggal di Tulungagung bertutur kepada salah satu crew DIMENSI,  “ kamu kuliah di Tulungagung kan,,, rugi lo kalau belum jelajahi warung kopinya..?. tentu dari penuturan MAMAN tersebut seolah mempertegas bahwa ada yang beda dengan warung kopi di Tulungagung.

                       Hal yang tentu juga menarik untuk dibahas adalah dari segi manakah kemenarikan warung kopi Tulungagung ?, apakah dari segi cita rasa atau dari segi penyajianya. Sudarsono, pemuda asal Desa Panjer yang merupakan salah satu penikmat Warung kopi berkenan menuturkan pengalamanya. Menurutnya kopi Tulungagung memiliki varian rasa yang tidak dimiliki oleh daerah lainya, “ Di Tulungagung ada yang namanya kopi ijo, rasanya khas banget, dan katanya sih kopi ini (kopi hijau; red)  hanya bisa ditemui di Tulungagung saja”, begitu tutur pemuda yang dalam seminggu bisa nongkrong di warung kopi sampai lebih dari 5 kali ini. Kopi hijau yang dimaksud sudarsono bukan nama varietas kopi layaknya Arabika atau robusta, kopi hijau yang dimaksud adalah  campuran antara bubuk kopi, butiran gula dan sedikit campuran kacang hijau yang telah dihaluskan. Sebuah perpaduan yang menurut para penikmat kopi begitu nikmat dan khas. Benar saja, berdasarkan hasil Investigasi crew DIMENSI di lapangan, sebagian besar warung kopi di Tulungagung  menyediakan kopi ijo sebagai sajian andalan mereka, dan tentu menjadi menu yang paling banyak dipesan para pengunjung.

              Namun pernyataan berbeda keluar dari irul, teman dari Sudarsono yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan antara Crew DIMENSI dengan temannya itu. Menurut pria yang biasa dipanggil debleng  ini, Gaung Warung kopi Tulungagung begitu keras terdengar diluar daerah  lebih karena warung Kopi di Tulungagung menawarkan pelayanan  ekstra para Pramusaji-nya, “ ada banyak warung kopi di Tulungagung yang menyajikan pelayan yang cantik-cantik, dan enaknya lagi kita diperbolehkan pegang, colek, dan sejenisnya  tanpa harus bayar ekstra”, Sebuah pernyataan yang sangat menarik untuk ditanggapi. Betapa mungkin, Tulungagung yang selama ini dikenal memiliki banyak pondok pesantren, tempat Toriqoh (sebuah jalan untuk mencapai ridlho Tuhan; red) beserta kyai-kyai terkenalnya , hari ini lebih dikenal di daerah luar karena warung kopi PLUS-PLUSnya.

WARUNG KOPI PANGKU DAN JAMUAN ISTIMEWA

Crew DIMENSI pun tak langsung membenarkan statement bahwa di Tulungagung terdapat cukup banyak warung kopi nakal, melainkan justru merasa tertantang untuk membuktikan kebenaran statement ini.  Benarkah saat ini beberapa warung kopi di tulungagung tak lagi selalu menawarkan citarasa kopi untuk menarik pelanggan, melainkan menggunakan magnet utama penarik laki-laki sebagai pengunjung dominan warung kopi,  wanita ?.

              “ di boyolangu ada, sumbergempol, ngunut, kalidawir, karangrejo, moyoketen, tapi yang paling banyak  di area pasar ngemplak”,  begitu tutur wijaya  (21), saat ditanya tentang daerah mana saja di Tulungagung yang terdapat warung kopi dengan pelayanan ekstra tersebut. pemuda yang mengaku merasa pusing setiap kali tidak minum kopi minimal satu cangkir dalam sehari ini juga menambahkan,  bahwa warung-warung kopi tersebut beroperasi di malam hari, mulai pukul 11 malam hingga menjelang subuh,  sebuah  alasan yang menyebabkan tak banyak orang yang tau akan keberadaan warung kopi ini. Meski begitu ada juga beberapa diantaranya telah beroprasi di siang hari, namun dikemas dalam balutan warung kopi yang tertutup sehingga tak banyak orang yang tahu aktifitas di dalam warung kopi.

            Para penikmat kopi Tulungagung pun mempunyai sebutan khusus buat warung kopi dengan pelayan-pelayan sexy beserta service ekstra ini, mereka biasa menamainya dengan sebutan warung Kopi Pangku atau warung kopi Ngosek. Konon sebutan ini biasa dipakai karena di warung kopi ini pengunjung diperkenankan untuk Mangku (mendudukkan seseorang diatas paha; red) para pelayannya. “ seng jogo warung kopine iku oleh di pangku, dadine yo warung kopine diarani warung kopi pangku” (penjaga warung kopinya diperbolehkan untuk dipangku, jadinya warung kopinya dinamakan warung kopi pangku; red) , ungkap Rudi salah seorang pengunjung warung kopi saat diwawancarai crew dimensi di salah satu sudut warung kopi di area pasar ngemplak. Meski begitu tak ada yang tahu kapan pertama kali istilah ini digunakan, dan siapa yang pertama kali mempergunakanya.

                Entah hanya di Indonesia  atau juga berlaku di Negara-negara lainya, warung kopi selalu di monopoli oleh kaum adam. Hal ini terlihat jelas di berbagai kedai kopi, hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki. Bahkan dalam hal penyebutan nama warung kopi-pun terjadi kecenderungan menggunakan nama laki-laki, misalkan saja beberapa contoh nama warung kopi yang cukup popular  di telingan para penikmat kopi tulungagung, warung kopi Waris, warung kopi Dori, warung kopi Paijo,  dan beberapa warung kopi lain yang menggunakan nama laki-laki pemilik warung tersebut. Dengan kecenderungan seperti ini, tak salah rasanya jika beberapa pemilik warung kopi memilih menggunakan jasa perempuan untuk menarik laki-laki sebagai pengunjung dominan warung kopi . karena para pemilik warung kopi beranggapan bahwa hampir setiap laki-laki memiliki ketertarikan terhadap perempuan.

Malam itu kota tulungagung begitu cerah,  tampaknya  tanggal bulan qomariah telah  masuk dalam hitungan belasan, sehingga bulan terlihat begitu jelas dan  menambah keindahan malam di kota dengan semboyan guyub rukun ini. Meski begitu udara malam khas kota  tulungagung yang  dingin  cukup mengganggu indahnya malam itu. Tapi nampaknya udara dingin Tulungagung tak cukup mampu memadamkan semangat crew Dimensi untuk melihat kehidupan malam warung kopi di Tulungagung . dari sekian banyak spot warung kopi di kota ingandaya ini, terpilihlah kawasan Ngemplak sebagai tujuan.

Keramaian tampak di dalah satu sudut warung kopi di area pasar ngemplak, satu dari belasan warung kopi yang berjejer di sebuah area yang disiang harinya dipakai masyarakat setempat sebagai pasar tradisional. Mungkin tak banyak orang tahu, diarea yang disiang harinya oleh masyarakat tulungagung lebih dikenal sebagai sentra buah dan sayur pada malam hari digunakan sebagai kedai kopi. Lapak-lapak tempat para pedagang menjajakan daganganya disiang hari, disulap menjadi kedai kopi oleh beberapa orang saat malam mulai menyelimuti kawasan tersebut.

                    Jangan pernah berharap  melihat warung kopi dengan deretan bangku-bangku yang berjajar rapi layaknya warung kopi pada umumnya,  karena hampir seluruh warung kopi di area ini tampil dalam format Lesehan (beralaskan tikar; red). Tempat ini mungkin dikatagorikan sebagai warung kopi yang tak begitu nyaman oleh pengunjung yang memang datang ke warung  kopi untuk menikmati suasana saat ngopi, karena selain tercium aroma tidak sedap dari gundukan sampah sayur dan buah, tempat ini gelap dan dan juga kumuh. Meski begitu tempat ini selalu ramai dikunjungi .

Senyum tampak mengembang dari seorang gadis yang ketika kami tanya mengaku berumur 26 tahun, saat kami  datang ke lapak warung kopi tempan ia bekerja. Tak selayaknya pekerja warung kopi pada umumnya yang langsung bertanya menu apa yang kita pesan ketika ada seorang pengunjung datang, para pelayan warung kopi ditempat ini justru lebih dulu nimbrung bersama para pengunjung. Meski saat itu udara Tulungagung begitu dingin, cha cha (bukan nama sebenarnya)  seorang pekerja yang telah 8 bulan bekerja ditempat ini tampil dengan dandanan yang sangat mini. Cha-cha malam itu mengenakan  Rok mini berwana hitam yang  dipadu dengan kaos lengan pendek yang cukup ketat,  bahkan kaos yang ia kenakan malam itu bisa dikatakan terlalu kecil untuk ukuran badanya yang cukup berisi,  sehingga ketika ia sedikit membungkuk saja tampak sebuah tato bertuliskan namanya yang terletak persis diatas pinggangnya.

                 Hampir 5 menit berlalu perbincangan antara kami (crew Dimensi; red) dengan cha-cha, meski begitu ia belum juga bertanya tentang menu apa yang kami pesan. Kami pun berinsiatif untuk memesan 2 cangkir kopi,         “ sampai lupa aku mas “ , sembari mengembangkan senyum di wajah yang bisa dibilang cukup cantik untuk ukuran seorang pekerja warung kopi.   Dengan membawa 2 cangkir kopi panas cha-cha kembali menghampiri kami, namun setelah menaruh kopi tersebut ia pamit untuk menemani seorang pengunjung yang baru datang.

Ditempat ini cha-cha tidak sendiri, ia ditemani seorang pekerja lagi  yang nampaknya berusia lebih muda dari cha-cha, namun nampaknya ia begitu sibuk menemani para pengunjung disudut lain warung kopi ini. Seorang pengunjung tampak sedang memeluk   Kembang (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja  yang telah bekerja ditempat  ini satu bulan lebih lama dari cha-cha. Tak ada respon menolak dari kembang, bahkan ia terkesan begitu nyaman dengan keadaan tersebut. Malam itu kembang tidak kalah sexy dibanding cha-cha, ia mengenakan kaos ketat dengan kombinasi rok mini coklat.

                Saat kami berniat untuk meninggalkan tempat ini, cha-cha kembali menghampiri kami . akhirnya kami pun mengurungkan niat untuk mengakhiri petualangan kami di warung kopi pangku. Kali ini cha-cha beraksi lebih berani, dia mengambil tempat duduk tepat tengah-tengah kami.  Bahkan aku cukup terkejut saat ia berani merangkulkan satu dari tanganya belakang bahuku.  Perbincangan kami berlanjut tentang kondisi di tempat ini dihari-hari lain. “ ini loh mas sepi, tadi abis ada operasi”,operasi yang dimaksud cha-cha adalah razia polisi kepada pengunjung warung kopi. Namun anehnya dirazia ini polisi hanya menanyakan surat-surat kelengkapan kendaraan pengunjung tanpa mempermasalahkan aktifitas yang terjadi di tempat tersebut.

                Malam di warung kopi pangku nampaknya berlalu begitu cepat, jam telah bergulir menunjukan pukul 02.00 dinihari. Kami pun masing-masing telah menghabiskan 2 cangkir kopi, sampai tiba saatnya kami memutuskaan untuk menyudahi petualangan malam ini. Kami pun cukup terkejut saat kami ingin membayar apa yang telah kami pesan. Secangkir kopi hanya dihargai Rp.3000,- saja, meski Rp. 2000,- lebih mahal dibanding harga warung kopi  pada umumnya, harga ini terbilang cukup murah dengan pelayanan istimewa yang diberikan para pekerjanya. Namun inilah kenyataan, hal ini dilakukan sebagai upaya bersaing dengan warung kopi pangku lain yang jumlahnya  cukup menjamur di tulungagung.

APA KATA MUI?

                  Saat ditunjukan data dan fakta terkait warung kopi di Tulungagung , Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Tulungagung yang saat itu diwakili langsung oleh  ketuanya KH. M. Hadi Mahfud beserta sekertaris umum Abu Sofyan Sirodjudin tampaknya tak begitu kaget. Hal ini tak lain karena pihaknya telah cukup lama   mendengar dan mengurusi masalah ini (warung kopi; red). Namun MUI meragukan keabsahan data pawahita tentang  jumlah warung kopi di tulungagung  yang menyentuh angka 7.000 unit. Jika terdapat 19 kecamaan, dengan perincian  257 desa dan 14 kelurahan, itu berarti rata-rata setiap desa atau kelurahan terdapat   lebih dari 25 warung kopi.  Sebuah jumlah yang menurut MUI Tulungagung terlalu mengada-ada, MUI menduga adanaya penggelembungan data.

               Meski begitu pihaknya (MUI) pun mengaku cukup prihatin dengan kondisi di Tulungagung, bagaimana bisa Tulungagung  yang  terdapat puluhan pesantren, beberapa institusi pendidikan islam seperti STAIN Tulungagung dan STAI Diponegoro tak mampu mengubah warna kelam yang ada di kabupaten ini “ yang justru saya soroti  adalah pondok-pondok yang ada di tulungagung, ada banyak pondok dan juga Institusi  islam seperti STAIN Tulungagung dan juga STAI Dipo tapi tak cukup mampu mengubah warna kota Tulungagung ” tutur KH. M. Hadi Mahfud.

Teruntuk itu MUI menghimbau kepada para aparatur pemerintahan beserta warga Tulungagung untuk bahu membahu memberantas kemaksiatan di warung kopi, ” warga seharusnya lebih sigap jika ada warung kopi di daerahnya yang tidak bener ” , tambah Kyai yang juga sebagai pengasuh ponpes menoro Tulungagung. Pemerintah Tulungagung tentu juga faham dengan banyaknya warung kopi pangku di Tulungagung, tapi belum ada upaya kongkrit dari pemerintah untuk mengatasi hal ini.

              Masalah menjamurnya warung kopi pangku di Tulungagung bukan hanya masalah pemerintah maupun MUI saja, melainkan masalah seluruh warga kota ini. Tak sepantasnya jika kita hanya menyalahkan pemerintah, meski begitu peran pemerintah begitu sentral dalam mengatasi hal ini. Pemerintah seharusnya menindak tegas para pengelola warung kopi yang  menjajakan kemolekan serta servis ekstra para pekerjanya sebagai penarik pengunjung. namun warga tempat warung kopi tersebut berada juga harus responsive dengan keadaan yang ada di tempatnya.

Tanggapan dari MUI terkait fenomena ini bagaimana dan solusi darinya….?

Di akhir tulisan tolong berilah suatu alternative pemikiran n solusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s