my Village

          Tak banyak orang yang tau nama jatikalen, sebuah kecamatan kecil yang terletak di bagian paling timur kabupaten nganjuk (atau mungkin beberapa orang juga masih asing dengan nama kabupaten nganjuk). Disebuah desa kecil di kecamatan jatikalen ini pula aku terlahir, tepatnya bernama desa gondang wetan. Sebuah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hamparan tanah nan subur tak sedikitpun dibiarkan oleh para penduduk desaku, setiap jengkal tanah menjadi media mereka untuk mengais rezeki dan mengabdikan diri menjaga kelestarian lingkungan. Namun tampaknya mata pencaharian mengurus karunia tuhan itu kini mulai sedikit diabaikan atau bahkan dianggap kurang menjanjikan oleh para pemuda.
Tampaknya aku terlalu terburu-buru dalam menceritakan betapa indah dan menariknya desaku, karna aku beranggapan masih banyak hal simple yang terlebih dulu bisa aku ceritakan (atau dalam bahasane mas adib “bisa aku narasikan”). Aku akan ceritakan terlebih dahulu tentang letak geografis desaku. Sebagaimana diawal tadi aku ceritakan bahwa desaku terletak di kecamatan jatikalen yang merupakan kecamatan paling timur kabupaten nganjuk, itu artinya kecamatanku berbatasan langsung dengan kabupaten jombang. Meski begitu aku tak rela jika orang-orang desaku dikatakan sebagai orang pinggiran, meski dibagian utara desaku merupakan kawasan hutan (yang dulunya cukup lebat), peradaban masyarakat desaku terbilang cukup maju, dan tak kalah jika dibandingkan dengan masyarakat perkotaan seperti Long Angles, London, Sidney juga kota-kota maju lainya (rodok guyon titik).
Meski terletak agak dekat hutan jangan pernah bayangkan bahwa desaku penuh kekurangan (layaknya desa–desa tertinggal dikabupaten trenggalek). Akses menuju desaku sangatlah mudah, jalan-jalan menuju desaku kesemuanya sudah merupakan jalanan aspal hotwheel. Tak heran jika hampir semua masyarakat desaku telah memiliki kendaraan bermotor, baik mobil, sepeda motor, ledok, atau bahkan becak mesin,,,hehehehehe. Hilangkan bayangan bahwa desaku belum terjamah listrik sebagaimana daerah-daerah pinggir hutan pada umumnya, karna listrik telah masuk kedesaku jauh sebelum Borobudur dibangun. Perangkat komunikasi telah begitu mudah diakses juga ditemukan pada masyarakat desaku. Orang lalu lalang dengan membawa hape, ipod, ataupun laptop sudah menjadi pemandangan yang sangat mudah ditemukan. Hampir semua jaringan telepon seluler telah masuk desaku (kecuali yang belum).
Jangan tergesa-gesa membahas masalah perekonomian, politik atau bahkan keagamaan masyarakat desaku dulu. Izinkan aku ceritakan terlebih dulu potensi-potensi sumber daya manusia yang ada di tanah kelahiranku. Tak pernah kupungkiri jika masyarakat desaku, terutama para orang-orang tua memiliki pendidikan yang rendah, namun tampaknya tuhan telah menganugrahkan kepada mereka kemampuan mengolah lahan pertanian yang luar biasa. Tanah yang dulunya tandus telah mereka sulap menjadi hamparan padi nan subur, tanah berbatu juga dirubah menjadi sebuah tanah dengan untaian dedaunan hijau. Tak seperti daerah-daerah lain yang memiliki Sentra kerajinan tangan atau semacam home industry, di desaku tempat seperti itu sangat jarang sekali ditemukan. Bukan karena mereka tak mempunyai daya kreatif untuk membuat kerajinan tangan, tapi terlebih dikarenakan hanya dari pertanian secara intensif saja mereka telah mendapatkan keuntungan financial yang melimpah. Selain juga ditunjang oleh factor keyakinan bahwa bertani adalah sebuah kearifan dengan alam. Namun rantai-rantai fanatisme terhadap bertani tampaknya mulai pudar. Bukan karna kearifan dengan alam telah hilang dari diri masyarakat desaku, namun sector usaha-usaha lain tampaknya telah menggoda dan meruntuhkan tirani petani.
Letak desaku yang berdekatan dengan kabupaten jombang tampaknya menjadikan kebudayaan didaerahku cenderung mirip dengan masyarakat jombang pada umumnya. Hal ini bisa dilihat dari logat atau cara bicara, jika orang nganjuk lazimnya menggunakan istilah “to” maka orang desaku kebanyakan menggunakan istilah “se”. semisal kalau orang nganjuk kebanyakan mengatakan “piye to”..?, maka aku mengatakanya “piye se”..?. juga dalam menyebutkan beberapa istilah atau nama benda, masyarakat desaku lebih terpengaruh kebudayaan jombang.
Jika diatas aku mengatakan bahwa kebanyakan para orang tua didesaku berpendidikan rendah hal itu tidak dikarenakan karna kurangnya fasilitas pendidikan. Perlu kalian semua ketahui desaku telah ada beberapa institusi pendidikan formal mulai TK, SD, SMP, juga SMA. Hal itu lebih dikarenakan kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Selain juga ditambah factor empiric yang mengatakan bahwa tanpa sekolah pun mereka bisa sukses, kaya raya. Untuk sukses mereka hanya perlu belajar dari alam, karena alam telah menyediakan segalanya untuk mereka. Namun dalam beberapa kurun tahun terakhir tampaknya kesadaran akan pentingya sekolah, terlebih pendidikan formal mulai menggelora dalam diri para pemuda.
Beberapa orang mungkin berfikiran lebih enak terlahir di daerah yang penuh kemewahan, ataupun terlahir dikota. Namun pikiran-pikiran seperti itu tak pernah sedikitpun terlintas dalam diriku, ku selalu panjatkan untaian syukur yang tak terhingga, aku telah dititipkan dibumi yang subur, dengan hembusan angin yang senantiasa membawa kedamaian hidup.
Agama mungkin pembahasan yang tepat untuk selanjutnya aku ceritakan. Didesa tempat aku terlahir tak satupun insan bernyawa yang secara harfiah tidak mengakui bahwa ALLAH adalah tuhan mereka. Itu artinya di desaku bisa dikatakan 100% penduduknya beragama islam. Namun ku tak mengatakan bahwa nilai-nilai islam telah berlaku didesaku. Jika orang dikatakan muslim yang ta’at ketika dia telah menjalankan sholat 5 waktu, maka orang-orang desaku sedikit sekali yang menyandang predikat tersebut. namun orang-orang desaku adalah orang yang masih memegang teguh tradisi(terkadang melebihi agama itu sendiri). Begitu mudah ditemui orang –orang berQurban di raya idul adha, bukan karena mereka berkeyakinan bahwa Qurban adalah amal yang dianjurkan oleh agama islam, namun selama ini tradisi mereka adalah ketika seseorang telah berqurban maka ternaknya akan melimpah. Begitupun saat dibulan Ramadan begitu banyak orang yang bersedekah ataupun member ta’jil kepada kepada orang lain, sekali lagi bukan karena berlandaskan motivasi agama, namun selama ini para pendahulunya melakukan hal tersebut.
Kalau selama orang-orang beranggapan bahwa hanya orang-orang berpendidikan tinggilah yang mampu berpolitik, maka hal itu telah dipatahkan dalam system pemerintahan desaku. Jika selama ini banyak yang berkeyakinan bahwa yang berkemungkinan melakukan kecurangan dalam sisitem perpolotokan hanya para intelektual yang tak bermoral maka anggapan itu telah diruntuhkan oleh system masyakat desaku.

             Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kuceritakan tentang surga tempata aku terlahir, namun karena padatnya jadwal penulis sebagai mahasiswa, maka sementara aku cukupkan sampai disini…….
To be continue……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s