sebuah ironi pendidikan bangsa

Tanggal 6 dan 9 agustus 1945 mungkin adalah sebuah sejarah kelam bagi Negara jepang. Pasalnya pada tanggal itu dua kota di Negara jepang (Hiroshima dan Nagasaki) luluh lantah akibat bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu. Yang tertinggal  dari sebuah peradaban yang sudah sangat maju hanyalah puing-puing. Bahkan beberapa pakar berpendapat bahwa dua kota itu baru akan pulih  dari efek bom atom sekitar 50 tahun kemudian. Namun sebuah tindakan fenomenal diambil oleh kaisar jepang kala itu. Bukan berapa banyak harta atau sisa  sumberdaya alam yang ia tanyakan, melainkan “berapa banyak guru yang tersisa di negri kita?”. Karena kaisar berkeyakinan dengan guru yang tersisa dia akan membangun kembali peradaban yang telah hancur. Lewat guru yang tersisa hal yang akan diprioritaskan untuk dibangun terlebih dahulu bukanlah gedung atau rumah, melain PENDIDIKAN.

Mungkin di Negara kita Indonesia hal semacam itu tak pernah terjadi, tapi setidaknya kita dapat mengambil sebuah pelajaran dari dari kejadian tersebut, begitu penting dan berharganya pendidikan. Terbukti, kurang dari 30 tahun jepang telah bangkit dari keterpurukan bahkan menjadi sebuah Negara dengan potensi sumberdaya manusia yang   sangat maju dengan produk-produk teknologi modern.

Sudahkah Negara kita menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam upayanya mengatasi keterpurukan yang telah terjadi selama bertahun-tahun di negri tempat dimana tumbuh subur tanaman ini, sebuah negri yang kaya raya akan sumber daya alam ini. dan sudahkah kita sebagai insan terdidik ikut ambil bagian mengantarkan bangsa ini melangkah dari jurang ketertinggalan da keterpurukan yang sudah teramat dalam ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s