Aktualisasi peran mahasiswa

BERATKAH PERAN MAHASISWA?

By : Habibur Rohman*

Tanggal 6 dan 9 agustus 1945 mungkin adalah sebuah sejarah kelam bagi Negara jepang. Pasalnya pada tanggal itu dua kota di Negara jepang (Hiroshima dan Nagasaki) luluh lantah akibat bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu. Yang tertinggal  dari sebuah peradaban yang sudah sangat maju kala itu hanyalah puing-puing. Bahkan beberapa pakar berpendapat bahwa dua kota itu baru akan pulih  dari efek radiasi bom atom berpuluh-puluh tahun kemudian. Namun sebuah tindakan fenomenal diambil oleh kaisar jepang kala itu. Bukan berapa banyak harta atau sisa  sumberdaya alam yang ia tanyakan, melainkan “berapa banyak guru yang tersisa di negri kita (jepang)?”. Karena kaisar berkeyakinan dengan guru yang tersisa dia akan membangun kembali peradaban yang telah hancur. Dengan segelintir guru yang tersisa hal yang akan diprioritaskan untuk dibangun terlebih dahulu bukanlah  rumah atau semacamnya.  melain PENDIDIKAN.

Mungkin di Negara kita Indonesia hal semacam itu tak pernah terjadi, tapi setidaknya kita dapat mengambil sebuah pelajaran dari kejadian tersebut, begitu penting dan berharganya pendidikan. Terbukti, kurang dari 30 tahun jepang telah bangkit dari keterpurukan, bahkan menjadi sebuah Negara dengan potensi sumberdaya manusia yang   sangat maju dengan produk-produk teknologi modern.

Sudahkah Negara kita menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam upayanya mengatasi keterpurukan. Keterpurukan  yang telah terjadi selama bertahun-tahun di negri tempat dimana tumbuh subur berbagai tumbuhan, dan sebuah negri yang kaya raya akan sumber daya alam. Dan sudahkah mereka para insan terdidik ikut ambil bagian dalam upaya mengentaskan keterpurukan ini?. Terlebih bagi mereka yang bergelar  MAHASISWA.  Sebuah predikat yang tak banyak orang pernah menyandangnya, sebuah alasan yang bisa dijadikan penguat bahwa predikat MAHASISWA memang prestisius.

Tidakkah kita menyadari bahwa Sejarah telah mencatat adanya  perubahan-perubahan besar yang pernah terjadi pada suatu bangsa, pasti didalangi oleh pemuda (juga mahasiswa) bangsa tersebut. Satu contoh yang masih hangat dalam sejarah bangsa kita adalah Reformasi ’98. Salah satu poin penting yang bisa kita renungkan dari peristiwa ini  adalah, perubahan itu datangnya dari golongan elit. Jumlah mereka tak banyak, tapi mereka mempunyai pengaruh yang  besar. Hal itu tak lain dikarenakan kualitas (mungkin pendidikan/intelektual) mereka.

Lantas Salahkah jika bangsa ini berkeyakinan, bahwa salah satu partikel yang bisa menghembuskan angin perubahan atau setidaknya sedikit mampu menghambat laju kerusakan di negri ini adalah  MAHASISWA?, TIDAK. Setidaknya ada 3 peran mahasiswa yang sebenarnya bila dioptimalkan mungkin bisa mewujudkan harapan bangsa ini, yakni Agent of change, agent of  control, serta agent of power. Dan mahasiswa tidak mempunyai hak mengelak dari peran ini.

Terlalu beratkah peran yang dibebankan kepada MAHASISWA?. Jika melihat tingkat intelektual dan semangat (yang seharusnya progressive serta revolusioner) serta sedikit mengaca pada sejarah, memang sepantasnya peran itu diembankan.

Dengan ekspektasi masyarakat seperti ini pantaskah seorang mahasiswa  merasa cukup dengan raihan IP yang tinggi saja. Terserah kepada mahasiswa bagaimana mengartikan arti  Agent of change, agent of  control, serta agent of power, terserah bentuk tindak lanjut mereka. Namun yang jelas bangsa ini butuh kontribusi nyata, tak hanya nilai IP tinggi yang terukir di lembaran ijazah.

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s