sekolah gajah

Ungkapan “ Ayam Mati Di Lumbung Padi” seakan teramat tepat menggambarkan kondisi bangsa indonesia sekarang ini. Di negara tempat tumbuh subur aneka tetumbuhan ini masih begitu mudah di temui orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Di  tempat yang minyak bumi dan gas alam tersedia dalam jumlah yang sangat besar ini, masyarakatnya masih  jauh dari kata makmur. Sebagai contoh nyata, masarakat pesisir pantai yang hidup dengan segala keterbatasan. Bukankah di negri yang luas lautanya melebihi luas daratanya ini , lautanya menyimpan kekayaan yang tak ternilai.   Sungguh Sebuah ironi yang tak berujung.

Hasil Kekayaan bangsa ini hanya dirasakan oleh sejumput orang saja,dan ironisnya lagi dari sejumput orang itu kebanyakan bukan dari bangsa kita sendiri. Kita seolah menjadi budak dirumah kita sendiri. Menjadi bahan perahan bangsa lain yang mungkin lebih mampu mengolah SDA ini, yang mungkin disebabkan faktor kualitas Individu mereka.

 Seorang ulama yang juga penyair MH Ainun najib atau yang biasa dipanggil cak Nun pernah berujar “ keterpurukan bangsa ini, disebabkan ketidakmampuan bangsa ini mengakui bahwa bangsa ini memang sudah sangat terpuruk”. Para penguasa bangsa ini seakan tetap beromantika kejayaan masa lalu, mereka tetap meyakini bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang makmur, atau dalam bahasa lain diungkapkan dengan “Gemah Rimpah loh jinawi”. mereka  seakan belum bisa  menerima kenyataan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya merasakan kekayaan bangsanya. Bahkan pemerintah dengan jumawa mengatakan bahwa perekonomian di negri ini dari tahun-ketahun mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tidak-kah tampak nyata  penderitaan jutaan masyarakat Indonesia..!!

Salah satu faktor yang mungkin menjadi akar permasalah ini adalah lemahnya kualitas SDM  indonesia. Pendidikan di indonesia belum terbukti mampu mengangkat keterpurukan yang telah berlangsung begitu lama di negri ini. Bahkan pendidikan di Indonesia  seakan mengarahkan para peserta didik menjadi pribadi yang destruktif. Seorang tokoh bahkan mengatakan bahwa “pendidikan Indonesia tak ubahnya sekolah  gajah”.  Kenapa demikian???.

Gajah dikenal sebagai binatang yang sangat protektif terhadap tempat tinggalnya. Ketika ada seseorang yang mencoba merusak hutan yang merupakan tempat tinggal para gajah, gajah akan menyerang orang tersebut. Bahkan tak jarang para gajah tersebut akan menyerang dan merusak perkampungan tempat perusak hutan itu tinggal. Namun manusia sebaagai tokoh antagonis dalam cerita ini tidak kehabisan akal. Gajah-gajah di hutan  ditangkarkan dan dijinakan, di didik disebuah tempat yang bernama “sekolah gajah”. Mereka (para gajah; red) diajari bagaimana harus patuh terhadap manusia, dan yang paling mencengangkan gajah diajari bagaimana merusak habitat mereka sendiri. Para gajah digunakan para perusak hutan itu untuk mengangkut kayu-kayu hasil jarahan hutan. Dan hal ini pula yang terjadi pada pendidikan Indonesia…!!!!

Aku yakin tak ada satupun sekolahan atau oknum guru manapun yang mengajarkan para peserta didiknya untuk menjadi seorang pribadi yang buruk. Aku pastikan mereka semua (para guru; red) pasti menginginkan para anak didiknya sukses dalam kehidupanya. Namun bukankah para koruptor itu bergelar sarjana, magister, doctor, atau bahkan profesor ?, bukankah para penjahat itu banyak yang telah mengenyam pendidikan sekolahan bertahun-tahun. Ah,,,,,itu mungkin terlalu jauh.

 Para sarjana pendidikan setelah lulus kuliah akan mendaftar menjadi guru di sekolah-sekolah tertentu. Bagi mereka yang beruntung, tidak lama setelah mengajar ada yang langsung menjadi PNS dengan gaji yang lumayan banyak. Bandingkan jika para sarjana pendidkan itu mengajar di sekolah bertahun-tahun namun tak jua menjadi PNS, mereka akan berusaha sebisa mungkin menjadi PNS. Salah satu cara kotor yang belakangan ini sering terjadi adalah praktik suap dalam ujian penjaringan PNS. Bukankah mereka korban dari sistem pendidikan Indonesia ???. mungkin tidak.

Tidak jarang diberitakan di beberapa media seorang oknum guru ataupun kepala sekolah mengkorupsi dana pendidikan.  Mereka orang berpendidikan kan??? Lantas dimana perbedaan kita dengan gajah ???. dimana letak perbedaan pendidikan kita dengan pendidikan para gajah ???.

Ini celotehanku, mungkin aku terlalu hyper-realita. Semoga saja tidak demikian adanya. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s