Menulis Sebagai Terapi Galau

Raditya Dika dalam film “Cinta Brontosaurus” pernah mengilhamiku bagaimana harus mengobati rasa galau, meski akhirnya ku urungkan. Dalam film itu, Miko (tokoh yang diperankan Raditya Dika) duduk diatas atap sebuah SPBU untuk menikmati indahnya langit malam yang berhiaskan bintang sebagai pengobat kegalauaannya.  Dengan di iringi sebuah music yang mendayu dan angin yang sepoi, si pembuat film menjadikan tingkah konyol Miko malam itu begitu mendamaikan dan sangat menarik untuk dicoba. Saat itu juga terlintas dibenakku untuk mencobanya, saat aku galau nanti. Masalahnya adalah, SPBU mana yang memperkenankan aku untuk memanjat atapnya?, nampaknya tidak ada.

Begitupun dengan “Kuggy”, tokoh utama dalam Novel dan film“Perahu Kertas” yang memilih mencurahkan keluh kesahnya dalam selembar kertas, lantas melipatnya menjadi sebuah perahu dan menghanyutkanya di sungai, dia juga pernah menginspirasiku. Setidaknya ada alternative mengatasi kegalauan ketimbang hanya menuliskanya di status FB, yang sudah barang tentu akan dilihat ratusan orang. Cara itu urung juga kulakukan, selain tempat berada sekarang jauh dari sungai atau laut, bagiku menghanyutkan perahu kertas di sungai atau laut berarti juga mengotorinya, aku tak mau. Akhirnya kuputuskan memilih menumpahkan uneg-uneg, kegundahan, kerisauan, kegalauan dalam pikiranku melalui perangkat leptop. kubahasakan kegundahan dipikiran, menjadi sebuah rangkaian abjad, kumpulan kata, yang akhirnya kusimpan dan kubagi di blogku. Untuk sementara cara ini terbilang cukup ampuh.

(ini ceritaku, apa ceritamu…..)

 

scripta manent,…

scripta manent, verba volant

Nalar kritis mahasiswa pada dasarnya tak  pudar seiring bergonta-gantinya masa. Gagasan atau ide brilian juga masih mewarnai pemikiran-pemikiran mahasiswa. Kritik atas  kondisi sosial- masyarakat, keadaan bangsa, juga kondisi kampusnya  masih lazim di suarakan mahasiswa. Yang membedakan adalah gagasan, ide, kritik dan keluhan mahasiswa hari ini mereka sampaikan lewat jejaring sosial. Mereka rupakan dalam bentuk update status Facebook atau cerocosan di twitter.

Tak banyak lagi cerita mahasiswa yang menuliskan gagasan mereka lewat buku, membahasakan ide brilian mereka dalam sebuah karya ilmiah, dan hanya terhenti di jejaring sosial.

Budaya semacam ini seolah didukung juga oleh tak adanya penekanan dari sistem pendidikan perguruan tinggi (juga para dosen) untuk mengeksplorasi kemampuan literal mahasiswa. Mahasiswa hanya ditekankan pada penguasaan materi dengan acuan IPK.

KITA SEMUA SUDAH TAHU (Kritik atas pemikiran Penulis Muda berbakat Tulungagung)

                Kemarin, seorang kawan karib-ku lewat akun FBnya menuliskan kegelisahanya terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini, khususnya dunia pendidikan. Dia memaparkan berbagai permasalahan seperti nangkringnya nama seorang tokoh capres dalam lembar soal UN, kasus pelecehan seksual di JIS, arisan sek pelajar dll. Status dalam genre serupa juga dia buat beberapa hari sebelumnya. Tulisan ini saya buat sebagai komentar (dan ungkapan ketidak setujuan) atas pemikiranya.

 Mas…

coba baca surat kabar, coba lihat televisi…

konten berita hanya di dominasi berita-berita kirminal, kecurangan, penipuan, korupsi, pelecehan seksual, kecurangan UN dan Berbagai permasalahan akut lainya. Menyenangkanya hal semacam itu dilakukan dalam intensitas yang sangat sering, Belum tuntas kasus century, sudah ada kasus hambalang, disusul korupsi MK dan banyak kasus lain misalnya. Masalah disuguhkan terus menerus tanpa tawaran solusi. Akhirnya, masyarakat Indonesia meyakini bahwa negara ini memang sudah terlewat parah, akut dan tak ada harapan lagi untuk optimis. Negara ini hanya kumpulan masalah, sampai-sampai semua orang bisa dengan menyebutkan dengan mudah apa kebobrokan Indonesia. Seolah memang sudah tidak ada baik-baiknya di Indonesia ini.

 Dalam lembaran Koran, bekas bungkus nasi pecel aku pernah membaca, ” Lebih baik menyalakan lilin dari pada sekedar mengutuk kegelapan”. Lebih baik berkontribusi meski sedikit, dari pada hanya sekedar mengutuk keadaan. sebagaimana yang (rutin) anda lakukan.

 Pada fase ini aku pikir sudah tidak perlu lagi kita menunnjukan apa permasalahan-permasalah yang ada di negara kita tercinta ini, KITA SEMUA SUDAH TAU. Hal semacam itu sudah menjadi rahasia umum. Saya berpikir bukankah lebih baik jika kita berkontribusi (meski sedikit) untuk mengatasi permasalahan yang menurut ada sudah kelewat banyak ini. Mari kita menunjukan kepada khalayak bahwa kita masih ada harapan, meski ada banyak masalah yang sedang menerpa Indonesia, masalah itu masih bisa diatasi, dengan memberikan tawaran solusi atau gerakan-gerakan kongkrit mengurai permasalah. Bukan hanya sekedar menyebutkanya setiap hari, lewat status-status FB.

 Pakde Begawan Antropolog koentjoroningrat menyebutkan bahwa salah satu kelemahan pendidikan pasca revolusi (bangsa bekas jajahan) adalah kelemahan mentalitasnya. Seperti sifat meremehkan mutu, menerabas, tidak percaya diri, tidak berdisiplin, dan kurang bertanggung jawab. (dimuat dalam artikel “apakah kelemahan mentalitet kita sesudah revousi” pada Koran kompas 9 februari 1974). Mari Kita ubah, agar kita tidak lagi menjadi bangsa yang inferior, pesimis.

*Tulisan ini saya buat tidak bermaksud menjelek-jelekan seseorang, tapi lebih kepada upaya membangun tradisi berargumentasi logis. Menyampaikan persetujuan argumentasi seseorang tidak cukup lewat jempol (like), Pada  kasus ini aku menyatakan ketidaksetujuan-ku atas argumentasi seseorang kawan karibku lewat uraian ini.

 

RUTE PERJALANAN MATARAM.

Teruntuk kawan-kawanku dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  yang berniat mengikuti kongres Nasional PPMI XII di Mataram, Tapi kebingungan rute perjalanan serta ada ketakutaGambarn uang dikantong tidak cukup, ini nih, saya tulisakan beberapa pilihan moda perjalanan menuju Mataram.

Bagi kawan-kawan dari Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Barat, naik saja kereta api Sri Tanjung yang berangkat dari Stasiun Lempuyangan (jogja) dan berhenti di stasiun Banyuwangibaru (Banyuwangi). Harga tiket kereta api inipun relative murah, Cuma Rp. 95.000. jika kawan-kawan berniat menggunakan moda transportasi ini, saya menghimbau untuk jauh-jauh memesan tiket terlebih dahulu, agar tidak kehabisan tiket. Kereta Api Sri Tanjung melintasi rute berikut : Yogyakarta (lempuyangan), Klaten, Solo, Sragen, Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Jember dan Banyuwangi.

Namun jika kawan-kawan memilih moda transportasi Bus, dari arah manapun turun saja di Surabaya-Terminal Bungurasih, Bagi kawan-kawan yang tidak mau ribet berganti-ganti kendaraan, Ada bus dari Surabaya yang menuju langsung Mataram, harga tiketnya kisaran Rp. 270.000 . Harga inipun diperoleh setelah melakukan tawar-menawar yang cukup alot. Beberapa wajah polos oleh kenek Bus akan dipatok 350.000, dalam posisi semacam ini kawan-kawan harus tegas. Bilang saja “Biasanya kan Cuma 270.00”. hehehe . Boleh juga dari Terminal Surabaya cari bis menuju Banyuwangi yang kabarnya hanya seharga 60.000.

Dari stasiun banyuwangibaru menuju pelabuhan Ketapang, cukup ditempuh dengan jalan kaki. Jaraknya kurang dari 500 Meter. Di Pelabuhan ketapang akan ada beberapa kenek yang menawari kita bus tujuan mataram atau denpasar, tapi menurutku temen-temen lebih baik jalan kaki saja menuju kapal. Harga tiket penyebrangan ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali) hanya Rp. 6. 000. Dari sini cari Bis (dianjurkan yang berukuran kecil saja) menuju (pelabuhan) padang Bai yang harganya kisaran Rp. 50.000 perorang. Sesampainya di Padang Bai persiapkan diri untuk kembali menyebrang menuju pulau Lombok, tiket penyebrangan dari padang Bai ke Lembar seharga 36.000/ orang dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Upayakan membeli makanan dan berbagai perbekalan lainya sebelum naik kapal, karena harga makanan dikapal sangat mahal.

dari pelabuhan lembar menuju lokasi acara sudah cukup dekat. Jika kawan-kawan datang ke mataram bersama rombongan, tak apa kiranya menghubungi panitia untuk menjemput. Tapi jika kawan-kawan tidak ingin merepotkan cukup naik angkutan yang tiketnya Cuma Rp. 4000. Murah bukan…

karena saya baik hati, saya juga akan berbagi beberapa tips untuk kawan-kawan selama perjalanan.

  1. Manfaatkan Teman.  LPM Anggota PPMI tersebar hampir diseluruh pulau Jawa, dan sepanjang perjalanan menuju Mataram. Jadi jika ada apa-apa sepanjang perjalanan, jangan sungkan untuk menghubungi kawan-kawan yang ada di wilayah tersebut. Untuk kawasan jogja ada Jarwo (0857 2947 1421), di Solo ada relix, di madiun ada Petrik (0857 9022 7335), di Surabaya Dedy (0856 4820 4657), di jember ada Sadam (0838 4770 0303) dan Bali ada Suar (0819 9982 1721). Jika kawan-kawan menemui kesulitan dalam perjalanan, hubungi saja mereka. Orang-orang ini adalah kumpulan orang-orang baik, dan pasti akan dengan senang hati membantu kawan-kawan.
  2. Berangkat Bareng-bareng. Mengingat perjalananya yang cukup jauh, akan sangat menarik jika selama perjalanan bersama teman-teman, bukan hanya kawan satu LPM atau satu dewan Kota, sms atau telpon kawan-kawan yang searah, ajak mereka berangkat bersama. Pasti akan sangat menyenangkan.
  3. Siapkan uang receh. Banyaknya transaksi yang akan kita lakukan selama perjalanan nanti, akan sangat terbantu jika membawa uang-uang pecahan kecil.
  4. Bawa Kamera (keperluan narsis), Bawa Makanan dan Minuman.
  5. Hati hati selama perjalanan dan jangan lupa berdoa. hehehehe

 

Berbagi Keceriaan Bersama Para NAPI

        Sore itu suasana kampus sudah mulai lengang, kegiatan perkuliahan sudah banyak yang berakhir. Namun tampak 6 orang mahasiswa ditemani 2 orang dosen tengah berkumpul di depan gedung rektorat kampus STAIN Tulungagung. Rupanya mereka tengah menunggu mobil kampus yang akan membawa mereka ke Lembaga Pemasarakat (LAPAS) kabupaten Tulungagung. Tidak dalam keperluan menjenguk salah satu napi atau sedang berurusan dengan kasus hukum, melainkan dalam rangka memberikan  penyuluhan dan pelatihan kepada penghuni LAPAS yang lokasinya bersebelahan dengan taman makam pahlawan kabupaten Tulungagung tersebut. Acara ini sendiri digagas oleh Pusat studi Gender (PSG) STAIN Tulungagung sebagai upaya pengabdian kepada masyarakat yang memang tercantum dalam tri darma perguruan tinggi.

          Kenyataan bahwa LAPAS adalah rumah para narapidana yang dipaksa menghuni tempat ini lantaran membunuh, memperkosa, mengkonsumsi narkoba dan berbagai kasus kriminal lainya memaksa kita mempersepsikan LAPAS sebagai tempat menyeramkan yang dihuni orang-orang berwajah sangar dan berbadan kekar. Belum lagi ditambah berbagai pemberitaan di TV tentang penganiayaan polisi kepada penghuni LAPAS atau perpeloncoan napi senior kepada napi yang baru masuk semakin menambah angker kesan LAPAS. Namun berbagai kesan tersebut tak sedikitpun menyurutkan minat mahasiswa ini untuk tetap antusias mengikuti acara ini.

          Jarak aGambarntara LAPAS dan kampus yang tidak terlalu jauh dilahap mobil kampus dalam beberapa menit saja. Sesampainya digerbang LAPAS tampak raut wajah beberapa mahasiswa begitu tegang, “ ini pertama kalinya aku masuk LAPAS, jadi sedikit nerveous”  ungkap Ajir Cahyono mahasiswa TMT semester 6.

           Setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan dari para penjaga lapas, rombongan kami pun segera dipersilahkan memasuki area LAPAS. Dari sini rombongan dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan jenis kelamin. 2 orang mahasiswa ditemani seorang dosen menuju Masjid yang terletak di LAPAS laki-laki, sedangkan 4 mahasiswi lain yang juga didampingi seorang dosen menuju LAPAS perempuan.

                Para napi laki-laki hari itu akan diberikan Tausiah,  sebuah agenda rutin yang diadakan pengelola LAPAS untuk memberikan siraman rohani kepada para napi. Agenda semcama ini rutin diadakan 2 kali seminggu dengan menggandeng beberapa lembaga seperti PSG STAIN dan NU Kabupaten Tulungagung. Kegiatan ini sendiri dihadiri oleh sebagian besar penghuni lapas laki-laki, “sebenarnya sih agenda kayak gini gak wajib mas, cuman ya kebanyakan pada ikut, buat ngisi waktu luang, biar gak bosen”,  tutur seorang Napi yang mengaku masuk penjara lantaran mencuri ini.

          Berbeda halnya dengan napi perempuan yang hari itu menerima pengarahan pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar kain flannel. 4 orang mahasiswi dengan sangat terampil mengajari para napi perempuan yang sebagian besar ibu-ibu itu dengan sangat telaten. Para napi perempuan yang rata-rata memiliki masa tahanan yang tak begitu lama ini tampak begitu antusias mengikuti setiap intruksi yang diberikan para mahasiswi, “kegiatan semacam ini sangat menarik, nanti setelah keluar dari Lapas saya akan mencoba membuka usaha semacam ini”  ungkap salah seorang napi.

          Kegiatan hari itu diakhiri dengan sholat dhuhur berjama’ah, para Napi tampak begitu khusu’ mengikutinya. Seusai sholat para napi tak lantas bergegas pergi, melainkan ikut dalam dzikir dan do’a bersama. Setelah itu baru salah seorang petugas meminta mereka untuk bergegas kembali masuk ke sel masing-masing.

Berdamai dengan problematika sampah

Berdamai dengan Problematika Sampah

TPA Segawe ibarat “stasiun” terakhir dalam perjalanan sampah di Tulungagung. Dalam perannya seba-gai tempat pembuangan sampah, TPA Segawe diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya pengolahan sampah. Limbah manusia yang satu ini bukan saja dapat menjadi permasalahan bagi masyarakat, tetapi dalam jangka panjang dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang tepat dalam penanganannya.

segawe
Gunungan sampah di TPA Segawe

Pernahkah kita berpikir kemana sampah-sampah di daerah Tulun­gagung dibuang?, atau pernahkah terlintas di pikiran kita kemana pa-sukan kebersihan Tulungagung dengan truk sampahnya membuang muatan? Sampah-sampah tersebut menuju suatu tempat yang disebut dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir; red) tepatnya di Sebuah TPA yang terletak di desa Segawe keca-matan Pagerwojo kabupaten Tulun-gagung. Untuk bisa sampai kesana dengan menggunakan sepeda mo­tor diperlukan waktu sekitar 20 me-nit dari pusat kota. Jalan yang harus kita tempuh pun tak begitu mudah, selain berkelok dan cukup menan-jak, di beberapa ruas jalan juga ter-dapat lubang-lubang. Namun, se-mua seakan terbayar lunas dengan panorama di kanan-kiri jalan, tampak pepohonan hijau yang masih rindang dan terawat. Selain itu di beberapa bagian juga tampak hamparan tana-man padi yang ditanam mengguna-kan sistem terasering, menambah harmoni keindahan di tempat ini. Lanjutkan membaca Berdamai dengan problematika sampah

Hanya ingin sedikit mewarnai hidup yang suram ini