Bapak #2

Saat teman-teman seusia sudah menjadi “Bapak”, saya kemana-mana masih minta diantar dan dijemput Bapak. Seperti malam ini, sepulang dari jamaah sholat Isya di mushola sebelah rumah, Bapak bergegas mengantar saya ke Stasiun Kertosono. Beliau tak mau saya ketinggalan kereta menuju TBapakulungagung. Bapak juga tak mengizinkan siapapun mengantar saya, harus Beliau sendiri katanya. Padahal bisa saja saya meminta tolong tetangga atau sanak saudara.

Perhatian Bapak kepada saya tak berubah, masih sama persis dengan 14 tahun yang lalu, saat Beliau dan Emak mengantar saya ke pesantren untuk kali pertama. Itu terjadi saat saya baru saja lulus SD. Beliau memastikan semua barang tidak tertinggal dan telah masuk ke dalam tas. Memastikan bahwa uang saku saya cukup. Bapak juga akan marah ketika saya tidak memakai jaket. Itu juga yang terjadi malam ini.

Kami banyak mengobrol sepanjang perjalanan, tentang pekerjaan Bapak, tentang hasil panen yg menurun drastis, tentang kehidupan yang sering lucu, tentang adik saya di Tulungagung, dan banyak hal lain. Anehnya, kami justru jarang mengobrol saat di rumah.

Benar memang bahwa Ibu adalah cinta pertama seorang anak, sedang ayah adalah pahlawan pertama bagi setiap anak. Saya berharap bisa seperti Beliau.

Saya sungguh penasaran, apakah nanti saat saya sudah menjadi “Bapak”, saya akan memiliki ketegaran seperti beliau, kemampuan sekomplit beliau, dan tentu saja kesabaran dan ketenangan yang mengagumkan itu. Ah, semoga saja.

Ada penjelasan paling sahih kenapa saya masih “sendiri” sampai setua ini. Saya tak ingin siapapun merebut waktu-waktu bahagia saya bersama mereka, Emak dan juga Bapak.

Berikut ini penggalan puisi Karya Wiji Tukul yang kiranya bisa menggambarkan tentang Ibu dan Bapak di mata saya.

Ibu,
oh Ibu, lama dan lengkap
seperti novel berliku-liku

aku membacamu sepanjang hidupku
aku membacamu memburu haru
aku membacamu merangkai kenangan
aku membacamu mengeja rindu

Bapak seperti puisi
rumit dan singkat

Bapak seperti puisi
berlapis arti

ku membaca mereka sepanjang hidupku
ku membaca mereka mengurung haru
ku membaca mereka merangkai kenangan
aku membaca mereka mengeja rindu

rindu, rindu
Lagu Anak – Fajar Merah

(Rapih Dhoho, 21.49 WIB)

 

Iklan

Menulis Sebagai Terapi Galau

Raditya Dika dalam film “Cinta Brontosaurus” pernah mengilhamiku bagaimana harus mengobati rasa galau, meski akhirnya ku urungkan. Dalam film itu, Miko (tokoh yang diperankan Raditya Dika) duduk diatas atap sebuah SPBU untuk menikmati indahnya langit malam yang berhiaskan bintang sebagai pengobat kegalauaannya.  Dengan di iringi sebuah music yang mendayu dan angin yang sepoi, si pembuat film menjadikan tingkah konyol Miko malam itu begitu mendamaikan dan sangat menarik untuk dicoba. Saat itu juga terlintas dibenakku untuk mencobanya, saat aku galau nanti. Masalahnya adalah, SPBU mana yang memperkenankan aku untuk memanjat atapnya?, nampaknya tidak ada.

Begitupun dengan “Kuggy”, tokoh utama dalam Novel dan film“Perahu Kertas” yang memilih mencurahkan keluh kesahnya dalam selembar kertas, lantas melipatnya menjadi sebuah perahu dan menghanyutkanya di sungai, dia juga pernah menginspirasiku. Setidaknya ada alternative mengatasi kegalauan ketimbang hanya menuliskanya di status FB, yang sudah barang tentu akan dilihat ratusan orang. Cara itu urung juga kulakukan, selain tempat berada sekarang jauh dari sungai atau laut, bagiku menghanyutkan perahu kertas di sungai atau laut berarti juga mengotorinya, aku tak mau. Akhirnya kuputuskan memilih menumpahkan uneg-uneg, kegundahan, kerisauan, kegalauan dalam pikiranku melalui perangkat leptop. kubahasakan kegundahan dipikiran, menjadi sebuah rangkaian abjad, kumpulan kata, yang akhirnya kusimpan dan kubagi di blogku. Untuk sementara cara ini terbilang cukup ampuh.

(ini ceritaku, apa ceritamu…..)

 

scripta manent,…

scripta manent, verba volant

Nalar kritis mahasiswa pada dasarnya tak  pudar seiring bergonta-gantinya masa. Gagasan atau ide brilian juga masih mewarnai pemikiran-pemikiran mahasiswa. Kritik atas  kondisi sosial- masyarakat, keadaan bangsa, juga kondisi kampusnya  masih lazim di suarakan mahasiswa. Yang membedakan adalah gagasan, ide, kritik dan keluhan mahasiswa hari ini mereka sampaikan lewat jejaring sosial. Mereka rupakan dalam bentuk update status Facebook atau cerocosan di twitter.

Tak banyak lagi cerita mahasiswa yang menuliskan gagasan mereka lewat buku, membahasakan ide brilian mereka dalam sebuah karya ilmiah, dan hanya terhenti di jejaring sosial.

Budaya semacam ini seolah didukung juga oleh tak adanya penekanan dari sistem pendidikan perguruan tinggi (juga para dosen) untuk mengeksplorasi kemampuan literal mahasiswa. Mahasiswa hanya ditekankan pada penguasaan materi dengan acuan IPK.

KITA SEMUA SUDAH TAHU (Kritik atas pemikiran Penulis Muda berbakat Tulungagung)

                Kemarin, seorang kawan karib-ku lewat akun FBnya menuliskan kegelisahanya terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini, khususnya dunia pendidikan. Dia memaparkan berbagai permasalahan seperti nangkringnya nama seorang tokoh capres dalam lembar soal UN, kasus pelecehan seksual di JIS, arisan sek pelajar dll. Status dalam genre serupa juga dia buat beberapa hari sebelumnya. Tulisan ini saya buat sebagai komentar (dan ungkapan ketidak setujuan) atas pemikiranya.

 Mas…

coba baca surat kabar, coba lihat televisi…

konten berita hanya di dominasi berita-berita kirminal, kecurangan, penipuan, korupsi, pelecehan seksual, kecurangan UN dan Berbagai permasalahan akut lainya. Menyenangkanya hal semacam itu dilakukan dalam intensitas yang sangat sering, Belum tuntas kasus century, sudah ada kasus hambalang, disusul korupsi MK dan banyak kasus lain misalnya. Masalah disuguhkan terus menerus tanpa tawaran solusi. Akhirnya, masyarakat Indonesia meyakini bahwa negara ini memang sudah terlewat parah, akut dan tak ada harapan lagi untuk optimis. Negara ini hanya kumpulan masalah, sampai-sampai semua orang bisa dengan menyebutkan dengan mudah apa kebobrokan Indonesia. Seolah memang sudah tidak ada baik-baiknya di Indonesia ini.

 Dalam lembaran Koran, bekas bungkus nasi pecel aku pernah membaca, ” Lebih baik menyalakan lilin dari pada sekedar mengutuk kegelapan”. Lebih baik berkontribusi meski sedikit, dari pada hanya sekedar mengutuk keadaan. sebagaimana yang (rutin) anda lakukan.

 Pada fase ini aku pikir sudah tidak perlu lagi kita menunnjukan apa permasalahan-permasalah yang ada di negara kita tercinta ini, KITA SEMUA SUDAH TAU. Hal semacam itu sudah menjadi rahasia umum. Saya berpikir bukankah lebih baik jika kita berkontribusi (meski sedikit) untuk mengatasi permasalahan yang menurut ada sudah kelewat banyak ini. Mari kita menunjukan kepada khalayak bahwa kita masih ada harapan, meski ada banyak masalah yang sedang menerpa Indonesia, masalah itu masih bisa diatasi, dengan memberikan tawaran solusi atau gerakan-gerakan kongkrit mengurai permasalah. Bukan hanya sekedar menyebutkanya setiap hari, lewat status-status FB.

 Pakde Begawan Antropolog koentjoroningrat menyebutkan bahwa salah satu kelemahan pendidikan pasca revolusi (bangsa bekas jajahan) adalah kelemahan mentalitasnya. Seperti sifat meremehkan mutu, menerabas, tidak percaya diri, tidak berdisiplin, dan kurang bertanggung jawab. (dimuat dalam artikel “apakah kelemahan mentalitet kita sesudah revousi” pada Koran kompas 9 februari 1974). Mari Kita ubah, agar kita tidak lagi menjadi bangsa yang inferior, pesimis.

*Tulisan ini saya buat tidak bermaksud menjelek-jelekan seseorang, tapi lebih kepada upaya membangun tradisi berargumentasi logis. Menyampaikan persetujuan argumentasi seseorang tidak cukup lewat jempol (like), Pada  kasus ini aku menyatakan ketidaksetujuan-ku atas argumentasi seseorang kawan karibku lewat uraian ini.

 

RUTE PERJALANAN MATARAM.

Teruntuk kawan-kawanku dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)  yang berniat mengikuti kongres Nasional PPMI XII di Mataram, Tapi kebingungan rute perjalanan serta ada ketakutaGambarn uang dikantong tidak cukup, ini nih, saya tulisakan beberapa pilihan moda perjalanan menuju Mataram.

Bagi kawan-kawan dari Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Barat, naik saja kereta api Sri Tanjung yang berangkat dari Stasiun Lempuyangan (jogja) dan berhenti di stasiun Banyuwangibaru (Banyuwangi). Harga tiket kereta api inipun relative murah, Cuma Rp. 95.000. jika kawan-kawan berniat menggunakan moda transportasi ini, saya menghimbau untuk jauh-jauh memesan tiket terlebih dahulu, agar tidak kehabisan tiket. Kereta Api Sri Tanjung melintasi rute berikut : Yogyakarta (lempuyangan), Klaten, Solo, Sragen, Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Jember dan Banyuwangi.

Namun jika kawan-kawan memilih moda transportasi Bus, dari arah manapun turun saja di Surabaya-Terminal Bungurasih, Bagi kawan-kawan yang tidak mau ribet berganti-ganti kendaraan, Ada bus dari Surabaya yang menuju langsung Mataram, harga tiketnya kisaran Rp. 270.000 . Harga inipun diperoleh setelah melakukan tawar-menawar yang cukup alot. Beberapa wajah polos oleh kenek Bus akan dipatok 350.000, dalam posisi semacam ini kawan-kawan harus tegas. Bilang saja “Biasanya kan Cuma 270.00”. hehehe . Boleh juga dari Terminal Surabaya cari bis menuju Banyuwangi yang kabarnya hanya seharga 60.000.

Dari stasiun banyuwangibaru menuju pelabuhan Ketapang, cukup ditempuh dengan jalan kaki. Jaraknya kurang dari 500 Meter. Di Pelabuhan ketapang akan ada beberapa kenek yang menawari kita bus tujuan mataram atau denpasar, tapi menurutku temen-temen lebih baik jalan kaki saja menuju kapal. Harga tiket penyebrangan ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali) hanya Rp. 6. 000. Dari sini cari Bis (dianjurkan yang berukuran kecil saja) menuju (pelabuhan) padang Bai yang harganya kisaran Rp. 50.000 perorang. Sesampainya di Padang Bai persiapkan diri untuk kembali menyebrang menuju pulau Lombok, tiket penyebrangan dari padang Bai ke Lembar seharga 36.000/ orang dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Upayakan membeli makanan dan berbagai perbekalan lainya sebelum naik kapal, karena harga makanan dikapal sangat mahal.

dari pelabuhan lembar menuju lokasi acara sudah cukup dekat. Jika kawan-kawan datang ke mataram bersama rombongan, tak apa kiranya menghubungi panitia untuk menjemput. Tapi jika kawan-kawan tidak ingin merepotkan cukup naik angkutan yang tiketnya Cuma Rp. 4000. Murah bukan…

karena saya baik hati, saya juga akan berbagi beberapa tips untuk kawan-kawan selama perjalanan.

  1. Manfaatkan Teman.  LPM Anggota PPMI tersebar hampir diseluruh pulau Jawa, dan sepanjang perjalanan menuju Mataram. Jadi jika ada apa-apa sepanjang perjalanan, jangan sungkan untuk menghubungi kawan-kawan yang ada di wilayah tersebut. Untuk kawasan jogja ada Jarwo (0857 2947 1421), di Solo ada relix, di madiun ada Petrik (0857 9022 7335), di Surabaya Dedy (0856 4820 4657), di jember ada Sadam (0838 4770 0303) dan Bali ada Suar (0819 9982 1721). Jika kawan-kawan menemui kesulitan dalam perjalanan, hubungi saja mereka. Orang-orang ini adalah kumpulan orang-orang baik, dan pasti akan dengan senang hati membantu kawan-kawan.
  2. Berangkat Bareng-bareng. Mengingat perjalananya yang cukup jauh, akan sangat menarik jika selama perjalanan bersama teman-teman, bukan hanya kawan satu LPM atau satu dewan Kota, sms atau telpon kawan-kawan yang searah, ajak mereka berangkat bersama. Pasti akan sangat menyenangkan.
  3. Siapkan uang receh. Banyaknya transaksi yang akan kita lakukan selama perjalanan nanti, akan sangat terbantu jika membawa uang-uang pecahan kecil.
  4. Bawa Kamera (keperluan narsis), Bawa Makanan dan Minuman.
  5. Hati hati selama perjalanan dan jangan lupa berdoa. hehehehe

 

Berbagi Keceriaan Bersama Para NAPI

        Sore itu suasana kampus sudah mulai lengang, kegiatan perkuliahan sudah banyak yang berakhir. Namun tampak 6 orang mahasiswa ditemani 2 orang dosen tengah berkumpul di depan gedung rektorat kampus STAIN Tulungagung. Rupanya mereka tengah menunggu mobil kampus yang akan membawa mereka ke Lembaga Pemasarakat (LAPAS) kabupaten Tulungagung. Tidak dalam keperluan menjenguk salah satu napi atau sedang berurusan dengan kasus hukum, melainkan dalam rangka memberikan  penyuluhan dan pelatihan kepada penghuni LAPAS yang lokasinya bersebelahan dengan taman makam pahlawan kabupaten Tulungagung tersebut. Acara ini sendiri digagas oleh Pusat studi Gender (PSG) STAIN Tulungagung sebagai upaya pengabdian kepada masyarakat yang memang tercantum dalam tri darma perguruan tinggi.

          Kenyataan bahwa LAPAS adalah rumah para narapidana yang dipaksa menghuni tempat ini lantaran membunuh, memperkosa, mengkonsumsi narkoba dan berbagai kasus kriminal lainya memaksa kita mempersepsikan LAPAS sebagai tempat menyeramkan yang dihuni orang-orang berwajah sangar dan berbadan kekar. Belum lagi ditambah berbagai pemberitaan di TV tentang penganiayaan polisi kepada penghuni LAPAS atau perpeloncoan napi senior kepada napi yang baru masuk semakin menambah angker kesan LAPAS. Namun berbagai kesan tersebut tak sedikitpun menyurutkan minat mahasiswa ini untuk tetap antusias mengikuti acara ini.

          Jarak aGambarntara LAPAS dan kampus yang tidak terlalu jauh dilahap mobil kampus dalam beberapa menit saja. Sesampainya digerbang LAPAS tampak raut wajah beberapa mahasiswa begitu tegang, “ ini pertama kalinya aku masuk LAPAS, jadi sedikit nerveous”  ungkap Ajir Cahyono mahasiswa TMT semester 6.

           Setelah melalui beberapa tahap pemeriksaan dari para penjaga lapas, rombongan kami pun segera dipersilahkan memasuki area LAPAS. Dari sini rombongan dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan jenis kelamin. 2 orang mahasiswa ditemani seorang dosen menuju Masjid yang terletak di LAPAS laki-laki, sedangkan 4 mahasiswi lain yang juga didampingi seorang dosen menuju LAPAS perempuan.

                Para napi laki-laki hari itu akan diberikan Tausiah,  sebuah agenda rutin yang diadakan pengelola LAPAS untuk memberikan siraman rohani kepada para napi. Agenda semcama ini rutin diadakan 2 kali seminggu dengan menggandeng beberapa lembaga seperti PSG STAIN dan NU Kabupaten Tulungagung. Kegiatan ini sendiri dihadiri oleh sebagian besar penghuni lapas laki-laki, “sebenarnya sih agenda kayak gini gak wajib mas, cuman ya kebanyakan pada ikut, buat ngisi waktu luang, biar gak bosen”,  tutur seorang Napi yang mengaku masuk penjara lantaran mencuri ini.

          Berbeda halnya dengan napi perempuan yang hari itu menerima pengarahan pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar kain flannel. 4 orang mahasiswi dengan sangat terampil mengajari para napi perempuan yang sebagian besar ibu-ibu itu dengan sangat telaten. Para napi perempuan yang rata-rata memiliki masa tahanan yang tak begitu lama ini tampak begitu antusias mengikuti setiap intruksi yang diberikan para mahasiswi, “kegiatan semacam ini sangat menarik, nanti setelah keluar dari Lapas saya akan mencoba membuka usaha semacam ini”  ungkap salah seorang napi.

          Kegiatan hari itu diakhiri dengan sholat dhuhur berjama’ah, para Napi tampak begitu khusu’ mengikutinya. Seusai sholat para napi tak lantas bergegas pergi, melainkan ikut dalam dzikir dan do’a bersama. Setelah itu baru salah seorang petugas meminta mereka untuk bergegas kembali masuk ke sel masing-masing.

Berdamai dengan problematika sampah

Berdamai dengan Problematika Sampah

TPA Segawe ibarat “stasiun” terakhir dalam perjalanan sampah di Tulungagung. Dalam perannya seba-gai tempat pembuangan sampah, TPA Segawe diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian lingkungan, khususnya pengolahan sampah. Limbah manusia yang satu ini bukan saja dapat menjadi permasalahan bagi masyarakat, tetapi dalam jangka panjang dapat mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang tepat dalam penanganannya.

segawe
Gunungan sampah di TPA Segawe

Pernahkah kita berpikir kemana sampah-sampah di daerah Tulun­gagung dibuang?, atau pernahkah terlintas di pikiran kita kemana pa-sukan kebersihan Tulungagung dengan truk sampahnya membuang muatan? Sampah-sampah tersebut menuju suatu tempat yang disebut dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir; red) tepatnya di Sebuah TPA yang terletak di desa Segawe keca-matan Pagerwojo kabupaten Tulun-gagung. Untuk bisa sampai kesana dengan menggunakan sepeda mo­tor diperlukan waktu sekitar 20 me-nit dari pusat kota. Jalan yang harus kita tempuh pun tak begitu mudah, selain berkelok dan cukup menan-jak, di beberapa ruas jalan juga ter-dapat lubang-lubang. Namun, se-mua seakan terbayar lunas dengan panorama di kanan-kiri jalan, tampak pepohonan hijau yang masih rindang dan terawat. Selain itu di beberapa bagian juga tampak hamparan tana-man padi yang ditanam mengguna-kan sistem terasering, menambah harmoni keindahan di tempat ini. Lanjutkan membaca “Berdamai dengan problematika sampah”

Mengais Asa di Kawasan Wajib Kondom

“tak pernah kami bermimpi menafkahi anak dan keluarga kami dari tempat yang menurutmu kotor ini, namun bisakah kami memilih”KONDOM


                   Tak banyak orang yang tahu nama Kaliwungu, sebuah desa di pinggiran kecamatan Ngunut-Tulungagung. Meski begitu, belakangan nama kaliwungu kerap disebut diberbagai media massa. Bukan sebab terjadi bencana alam ataupun kerusuhan berbau SARA di tempat ini, melainkan satu dari dua lokalisasi legal di Tulungagung terdapat disini, serta bisa dikatakan sebagai lokalisasi yang terbesar di kabupaten yang di sebelah selatan berbatasan langsung dengan samudra Hindia ini.  Keberadaan lokalisasi kaliwungu sendiri sebenarnya bukan hal baru, berdasarkan catatan Dinas Sosial  Tulungagung lokalisasi ini telah ada sejak tahun 1972. Rencana pemerintah mengalihfungsikan (penutupan ; red) lokalisasi inilah salah satu pemicu maraknya pemberitaan terkait kawasan kaliwungu. Lanjutkan membaca “Mengais Asa di Kawasan Wajib Kondom”

CATATAN SEORANG MAHASISWA

CATATAN SEORANG MAHASISWA

By : Habibur Rohman

          Tak akan ada lagi hukuman dari guru kelas  bagi mereka yang tidak mengerjakan PR, dan tenang saja pintu gerbang di tempat ini tetap akan terbuka meski kalian datang terlambat. Simpan seragam putih abu-abumu, dan jangan pernah berharap akan mendapatkan ganti seragam dengan model dan pola yang baru, karena di tempat barumu ini kau boleh memakai pakaian sesukamu (asal masih dalam batas kewajaran). Bahkan disini kau boleh mengekspresikan diri sesukamu, kau ingin panjangkan rambutmu, menirukan hair style artis idolamu, mengenakan model sepatu terbaru, mewarnai kukumu, silahkan !. Lanjutkan membaca “CATATAN SEORANG MAHASISWA”

Mak Tik

     Jangan pernah mengaku  pecinta kuliner murah kalau belum pernah mengunjungi warung “MAK TIK”. Sebuah nama yang terbilang sangat familiar di telinga mahasiswa STAIN Tulungagung. Kalau saja  tingkat kepopuleran diukur dari seberapa sering sebuah nama itu disebut dan diingat, maka kepopuleran “Mak TIK” pasti mengalahkan pak Maftuhin ketua STAIN Tulungagung.

         Warung “Mak TIK” popular bukan hanya karena Harga yang terbilang Murah dan memanjakan Kantong mahasiswa, tapi juga karna varian  makanan  yang ditawarkan terbilang cukup beragam. Bayangkan hanya dengan merogoh  kantong  Rp. 3.500 kita telah bisa menikmati sepiring nasi porsi kuli dengan sayur ayam. Bagi para pecinta sayur, atau mungkin juga mahasiswa-mahasiswa yang berdalih demikian padahal memang sedang kere, cukup dengan Rp. 2000 sepiring nasi porsi Tukang Becak dan sayur pilihan kita bisa di dapat.

           Konsep warung “Mak TIK” pun  terbilang cukup unik, untuk memesan makanan  kita diharuskan menuju langsung kedapur. Disana terdapat beberapa panci berukuran besar dengan diameter sekitar 40cm dengan berbagai aneka sayuran didalamnya. Selain itu tersedia juga beberapa jajan pasar serta gorengan yang ditata rapi disebuah meja berukuran cukup besar. Tak semua yang datang ketempat ini memesan makanan dan dimakan ditempat, beberapa orang hanya membeli sayur dan membawanya pulang. Tapi bagi yang berminat untuk makan ditempat pun telah disediakan beberapa tenda yang  tentunya juga dilengkapi beberapa kursi dan meja berserta atap daun rumbia yang mampu menggugah nafsu makan kita.

          Hal unik yang sulit terlupa dari Mak TIK , si pemilik sekaligus yang melayani langsung pelanggan adalah tutur kata dan gaya bahasanya. Sebenarnya  Mak Tik bukan tipe penjual yang murah senyum kepada para pembeli. Dia hanya sesekali mengembangkan senyum yang menurutku kurang begitu manis, saat ada pembeli hanya mengucapkan kata “ sampean nopo” dengan intonasi datar dan volume suara sangat rendah. Namun terkadang Mak TIK juga menyempatkan mengobrol dengan beberapa mahasiswa yang merupakan pelanggan tetapnya tentang bebera[pa hal ringan seperti kapan libur, tentang kecelakaan dekat kampus atau hal-hal lainya.

                    Berbeda halnya dengan SPP STAIN Tulung yang konstan, harga makanan diwarung Mak Tik sering berubah-ubah. Bukan tergantung kurs dollar seperti halnya harga BBM. Tapi harga di warung ini sangat tergantung Mak Tik, dialah pemilik hak prerogative harga ditempat ini.  Harga nasi dengan sayur ayam misalnya, harga biasa mungkin Rp. 3.500 tapi tak jarang Mak Tik menghargai dibawah harga tersebut. “Asal sebut” adalah kata yang biasa disematkan teman-teman pelanggan untuk aktifitas mak Tik yang satu ini.

Mak Tik,, we will remember you .

warung kopi pangku Tulungagung.

 Welcome To Paradise

                   Indonesia  adalah sebuah negara dengan keanekaragaman budaya yang sangat melimpah, terbukti setiap daerah di negri ini memiliki cirri khas budaya yang tentunya berbeda dengan  kawasan atau daerah lain. Tak jarang perbedaan budaya antar daerah terkesan sangat mencolok bahkan kadang terkesan kontras, namun hal ini merupakan sebuah anugrah bagi bangsa Indonesia. Keanekaragaman yang ada di Negara ini bisa dikatakan merupakan magnet utama industry pariwisata di negri dengan jumlah penduduk sekitar 241 juta jiwa ini. Sampai saat ini pariwisata merupakan sumber Pemasukan devisa negara yang cukup besar, selain dari agribisnis                         ( perkebunan dan perikanan ) dan tentunya juga pajak.

Layaknya sebuah sifat yang melekat pada diri manusia, tiap daerah juga dikenal dari sesuatu yang menjadi cirri khas daerah tersebut. Misalkan saja ketika disebut kesenian ondel-ondel maka akan dihubungkan dengan  daerah betawi, atau ketika disebut  nama makanan Rendang maka akan terbersit di pikiran kita daerah Sumatra barat khususnya padang. Namun tak selamanya sebuah daerah dikenal dengan produk unggulan atau sesuatu yang membanggakan dari daerah tersebut, beberapa daerah justru dikenal karena sebuah insiden kelam yang pernah terjadi di daerah tersebut. Misalkan saja Sampit, sebuah daerah yang justru santer terdengar ke telinga public karena konflik antar suku yang pernah terjadi di daerah tersebut.

Begitupun dengan Tulungagung, sebuah kabupaten yang terletak 154 km barat daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Daerah ini dikenal sebagai pengahasil marmer, sebuah barang tambang yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.  Label kota marmer yang disematkan kepada kabupaten Tulungagung tentu tidak salah, sebab dari data hasil penelitian Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral jumlah batu marmer Tulungagung berkisar 382.050.000 , sebuah jumlah yang tentunya tidak sedikit.  Namun fakta tersebut tak membuat Tulungagung selalu dicirikan dengan marmernya, ada beberapa orang yang justru mengenal Tulungagung dari sisi lain kabupaten ini, Warung Kopi.

Dalam catatan yang dimiliki Paguyuban Warung dan Hiburan se-Tulungagung (Pawahita), jumlah warung kopi di Tulungagung  sekitar 7.000 unit. jumlah yang fantastis untuk ukuran kabupaten kecil yang memiliki 19 kecamatan ini, namun jumlah tersebut  mungkin masih terlampaui oleh daerah lain di Negri ini, lantas apakah yang membuat warung kopi Tulungagung begitu terkenal. MAMAN, seorang warga Kediri yang pernah cukup lama tinggal di Tulungagung bertutur kepada salah satu crew DIMENSI,  “ kamu kuliah di Tulungagung kan,,, rugi lo kalau belum jelajahi warung kopinya..?. tentu dari penuturan MAMAN tersebut seolah mempertegas bahwa ada yang beda dengan warung kopi di Tulungagung.

                       Hal yang tentu juga menarik untuk dibahas adalah dari segi manakah kemenarikan warung kopi Tulungagung ?, apakah dari segi cita rasa atau dari segi penyajianya. Sudarsono, pemuda asal Desa Panjer yang merupakan salah satu penikmat Warung kopi berkenan menuturkan pengalamanya. Menurutnya kopi Tulungagung memiliki varian rasa yang tidak dimiliki oleh daerah lainya, “ Di Tulungagung ada yang namanya kopi ijo, rasanya khas banget, dan katanya sih kopi ini (kopi hijau; red)  hanya bisa ditemui di Tulungagung saja”, begitu tutur pemuda yang dalam seminggu bisa nongkrong di warung kopi sampai lebih dari 5 kali ini. Kopi hijau yang dimaksud sudarsono bukan nama varietas kopi layaknya Arabika atau robusta, kopi hijau yang dimaksud adalah  campuran antara bubuk kopi, butiran gula dan sedikit campuran kacang hijau yang telah dihaluskan. Sebuah perpaduan yang menurut para penikmat kopi begitu nikmat dan khas. Benar saja, berdasarkan hasil Investigasi crew DIMENSI di lapangan, sebagian besar warung kopi di Tulungagung  menyediakan kopi ijo sebagai sajian andalan mereka, dan tentu menjadi menu yang paling banyak dipesan para pengunjung.

              Namun pernyataan berbeda keluar dari irul, teman dari Sudarsono yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan antara Crew DIMENSI dengan temannya itu. Menurut pria yang biasa dipanggil debleng  ini, Gaung Warung kopi Tulungagung begitu keras terdengar diluar daerah  lebih karena warung Kopi di Tulungagung menawarkan pelayanan  ekstra para Pramusaji-nya, “ ada banyak warung kopi di Tulungagung yang menyajikan pelayan yang cantik-cantik, dan enaknya lagi kita diperbolehkan pegang, colek, dan sejenisnya  tanpa harus bayar ekstra”, Sebuah pernyataan yang sangat menarik untuk ditanggapi. Betapa mungkin, Tulungagung yang selama ini dikenal memiliki banyak pondok pesantren, tempat Toriqoh (sebuah jalan untuk mencapai ridlho Tuhan; red) beserta kyai-kyai terkenalnya , hari ini lebih dikenal di daerah luar karena warung kopi PLUS-PLUSnya.

WARUNG KOPI PANGKU DAN JAMUAN ISTIMEWA

Crew DIMENSI pun tak langsung membenarkan statement bahwa di Tulungagung terdapat cukup banyak warung kopi nakal, melainkan justru merasa tertantang untuk membuktikan kebenaran statement ini.  Benarkah saat ini beberapa warung kopi di tulungagung tak lagi selalu menawarkan citarasa kopi untuk menarik pelanggan, melainkan menggunakan magnet utama penarik laki-laki sebagai pengunjung dominan warung kopi,  wanita ?.

              “ di boyolangu ada, sumbergempol, ngunut, kalidawir, karangrejo, moyoketen, tapi yang paling banyak  di area pasar ngemplak”,  begitu tutur wijaya  (21), saat ditanya tentang daerah mana saja di Tulungagung yang terdapat warung kopi dengan pelayanan ekstra tersebut. pemuda yang mengaku merasa pusing setiap kali tidak minum kopi minimal satu cangkir dalam sehari ini juga menambahkan,  bahwa warung-warung kopi tersebut beroperasi di malam hari, mulai pukul 11 malam hingga menjelang subuh,  sebuah  alasan yang menyebabkan tak banyak orang yang tau akan keberadaan warung kopi ini. Meski begitu ada juga beberapa diantaranya telah beroprasi di siang hari, namun dikemas dalam balutan warung kopi yang tertutup sehingga tak banyak orang yang tahu aktifitas di dalam warung kopi.

            Para penikmat kopi Tulungagung pun mempunyai sebutan khusus buat warung kopi dengan pelayan-pelayan sexy beserta service ekstra ini, mereka biasa menamainya dengan sebutan warung Kopi Pangku atau warung kopi Ngosek. Konon sebutan ini biasa dipakai karena di warung kopi ini pengunjung diperkenankan untuk Mangku (mendudukkan seseorang diatas paha; red) para pelayannya. “ seng jogo warung kopine iku oleh di pangku, dadine yo warung kopine diarani warung kopi pangku” (penjaga warung kopinya diperbolehkan untuk dipangku, jadinya warung kopinya dinamakan warung kopi pangku; red) , ungkap Rudi salah seorang pengunjung warung kopi saat diwawancarai crew dimensi di salah satu sudut warung kopi di area pasar ngemplak. Meski begitu tak ada yang tahu kapan pertama kali istilah ini digunakan, dan siapa yang pertama kali mempergunakanya.

                Entah hanya di Indonesia  atau juga berlaku di Negara-negara lainya, warung kopi selalu di monopoli oleh kaum adam. Hal ini terlihat jelas di berbagai kedai kopi, hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki. Bahkan dalam hal penyebutan nama warung kopi-pun terjadi kecenderungan menggunakan nama laki-laki, misalkan saja beberapa contoh nama warung kopi yang cukup popular  di telingan para penikmat kopi tulungagung, warung kopi Waris, warung kopi Dori, warung kopi Paijo,  dan beberapa warung kopi lain yang menggunakan nama laki-laki pemilik warung tersebut. Dengan kecenderungan seperti ini, tak salah rasanya jika beberapa pemilik warung kopi memilih menggunakan jasa perempuan untuk menarik laki-laki sebagai pengunjung dominan warung kopi . karena para pemilik warung kopi beranggapan bahwa hampir setiap laki-laki memiliki ketertarikan terhadap perempuan.

Malam itu kota tulungagung begitu cerah,  tampaknya  tanggal bulan qomariah telah  masuk dalam hitungan belasan, sehingga bulan terlihat begitu jelas dan  menambah keindahan malam di kota dengan semboyan guyub rukun ini. Meski begitu udara malam khas kota  tulungagung yang  dingin  cukup mengganggu indahnya malam itu. Tapi nampaknya udara dingin Tulungagung tak cukup mampu memadamkan semangat crew Dimensi untuk melihat kehidupan malam warung kopi di Tulungagung . dari sekian banyak spot warung kopi di kota ingandaya ini, terpilihlah kawasan Ngemplak sebagai tujuan.

Keramaian tampak di dalah satu sudut warung kopi di area pasar ngemplak, satu dari belasan warung kopi yang berjejer di sebuah area yang disiang harinya dipakai masyarakat setempat sebagai pasar tradisional. Mungkin tak banyak orang tahu, diarea yang disiang harinya oleh masyarakat tulungagung lebih dikenal sebagai sentra buah dan sayur pada malam hari digunakan sebagai kedai kopi. Lapak-lapak tempat para pedagang menjajakan daganganya disiang hari, disulap menjadi kedai kopi oleh beberapa orang saat malam mulai menyelimuti kawasan tersebut.

                    Jangan pernah berharap  melihat warung kopi dengan deretan bangku-bangku yang berjajar rapi layaknya warung kopi pada umumnya,  karena hampir seluruh warung kopi di area ini tampil dalam format Lesehan (beralaskan tikar; red). Tempat ini mungkin dikatagorikan sebagai warung kopi yang tak begitu nyaman oleh pengunjung yang memang datang ke warung  kopi untuk menikmati suasana saat ngopi, karena selain tercium aroma tidak sedap dari gundukan sampah sayur dan buah, tempat ini gelap dan dan juga kumuh. Meski begitu tempat ini selalu ramai dikunjungi .

Senyum tampak mengembang dari seorang gadis yang ketika kami tanya mengaku berumur 26 tahun, saat kami  datang ke lapak warung kopi tempan ia bekerja. Tak selayaknya pekerja warung kopi pada umumnya yang langsung bertanya menu apa yang kita pesan ketika ada seorang pengunjung datang, para pelayan warung kopi ditempat ini justru lebih dulu nimbrung bersama para pengunjung. Meski saat itu udara Tulungagung begitu dingin, cha cha (bukan nama sebenarnya)  seorang pekerja yang telah 8 bulan bekerja ditempat ini tampil dengan dandanan yang sangat mini. Cha-cha malam itu mengenakan  Rok mini berwana hitam yang  dipadu dengan kaos lengan pendek yang cukup ketat,  bahkan kaos yang ia kenakan malam itu bisa dikatakan terlalu kecil untuk ukuran badanya yang cukup berisi,  sehingga ketika ia sedikit membungkuk saja tampak sebuah tato bertuliskan namanya yang terletak persis diatas pinggangnya.

                 Hampir 5 menit berlalu perbincangan antara kami (crew Dimensi; red) dengan cha-cha, meski begitu ia belum juga bertanya tentang menu apa yang kami pesan. Kami pun berinsiatif untuk memesan 2 cangkir kopi,         “ sampai lupa aku mas “ , sembari mengembangkan senyum di wajah yang bisa dibilang cukup cantik untuk ukuran seorang pekerja warung kopi.   Dengan membawa 2 cangkir kopi panas cha-cha kembali menghampiri kami, namun setelah menaruh kopi tersebut ia pamit untuk menemani seorang pengunjung yang baru datang.

Ditempat ini cha-cha tidak sendiri, ia ditemani seorang pekerja lagi  yang nampaknya berusia lebih muda dari cha-cha, namun nampaknya ia begitu sibuk menemani para pengunjung disudut lain warung kopi ini. Seorang pengunjung tampak sedang memeluk   Kembang (bukan nama sebenarnya), seorang pekerja  yang telah bekerja ditempat  ini satu bulan lebih lama dari cha-cha. Tak ada respon menolak dari kembang, bahkan ia terkesan begitu nyaman dengan keadaan tersebut. Malam itu kembang tidak kalah sexy dibanding cha-cha, ia mengenakan kaos ketat dengan kombinasi rok mini coklat.

                Saat kami berniat untuk meninggalkan tempat ini, cha-cha kembali menghampiri kami . akhirnya kami pun mengurungkan niat untuk mengakhiri petualangan kami di warung kopi pangku. Kali ini cha-cha beraksi lebih berani, dia mengambil tempat duduk tepat tengah-tengah kami.  Bahkan aku cukup terkejut saat ia berani merangkulkan satu dari tanganya belakang bahuku.  Perbincangan kami berlanjut tentang kondisi di tempat ini dihari-hari lain. “ ini loh mas sepi, tadi abis ada operasi”,operasi yang dimaksud cha-cha adalah razia polisi kepada pengunjung warung kopi. Namun anehnya dirazia ini polisi hanya menanyakan surat-surat kelengkapan kendaraan pengunjung tanpa mempermasalahkan aktifitas yang terjadi di tempat tersebut.

                Malam di warung kopi pangku nampaknya berlalu begitu cepat, jam telah bergulir menunjukan pukul 02.00 dinihari. Kami pun masing-masing telah menghabiskan 2 cangkir kopi, sampai tiba saatnya kami memutuskaan untuk menyudahi petualangan malam ini. Kami pun cukup terkejut saat kami ingin membayar apa yang telah kami pesan. Secangkir kopi hanya dihargai Rp.3000,- saja, meski Rp. 2000,- lebih mahal dibanding harga warung kopi  pada umumnya, harga ini terbilang cukup murah dengan pelayanan istimewa yang diberikan para pekerjanya. Namun inilah kenyataan, hal ini dilakukan sebagai upaya bersaing dengan warung kopi pangku lain yang jumlahnya  cukup menjamur di tulungagung.

APA KATA MUI?

                  Saat ditunjukan data dan fakta terkait warung kopi di Tulungagung , Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) Tulungagung yang saat itu diwakili langsung oleh  ketuanya KH. M. Hadi Mahfud beserta sekertaris umum Abu Sofyan Sirodjudin tampaknya tak begitu kaget. Hal ini tak lain karena pihaknya telah cukup lama   mendengar dan mengurusi masalah ini (warung kopi; red). Namun MUI meragukan keabsahan data pawahita tentang  jumlah warung kopi di tulungagung  yang menyentuh angka 7.000 unit. Jika terdapat 19 kecamaan, dengan perincian  257 desa dan 14 kelurahan, itu berarti rata-rata setiap desa atau kelurahan terdapat   lebih dari 25 warung kopi.  Sebuah jumlah yang menurut MUI Tulungagung terlalu mengada-ada, MUI menduga adanaya penggelembungan data.

               Meski begitu pihaknya (MUI) pun mengaku cukup prihatin dengan kondisi di Tulungagung, bagaimana bisa Tulungagung  yang  terdapat puluhan pesantren, beberapa institusi pendidikan islam seperti STAIN Tulungagung dan STAI Diponegoro tak mampu mengubah warna kelam yang ada di kabupaten ini “ yang justru saya soroti  adalah pondok-pondok yang ada di tulungagung, ada banyak pondok dan juga Institusi  islam seperti STAIN Tulungagung dan juga STAI Dipo tapi tak cukup mampu mengubah warna kota Tulungagung ” tutur KH. M. Hadi Mahfud.

Teruntuk itu MUI menghimbau kepada para aparatur pemerintahan beserta warga Tulungagung untuk bahu membahu memberantas kemaksiatan di warung kopi, ” warga seharusnya lebih sigap jika ada warung kopi di daerahnya yang tidak bener ” , tambah Kyai yang juga sebagai pengasuh ponpes menoro Tulungagung. Pemerintah Tulungagung tentu juga faham dengan banyaknya warung kopi pangku di Tulungagung, tapi belum ada upaya kongkrit dari pemerintah untuk mengatasi hal ini.

              Masalah menjamurnya warung kopi pangku di Tulungagung bukan hanya masalah pemerintah maupun MUI saja, melainkan masalah seluruh warga kota ini. Tak sepantasnya jika kita hanya menyalahkan pemerintah, meski begitu peran pemerintah begitu sentral dalam mengatasi hal ini. Pemerintah seharusnya menindak tegas para pengelola warung kopi yang  menjajakan kemolekan serta servis ekstra para pekerjanya sebagai penarik pengunjung. namun warga tempat warung kopi tersebut berada juga harus responsive dengan keadaan yang ada di tempatnya.

Tanggapan dari MUI terkait fenomena ini bagaimana dan solusi darinya….?

Di akhir tulisan tolong berilah suatu alternative pemikiran n solusi.

cantik…?

cantik Minnallah
cantik Minnallah

CANTIK….!

             Cantik, sebuah predikat yang hampir semua wanita mendambanya. Sebuah kebanggaan yang tak terkira ketika seorang perempuan dikatakan cantik oleh lawan jenisnya. Bisa dikatakan “cantik” adalah segalanya bagi perempuan, Sehingga Tak jarang  Cantik digunakan para wanita sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Dan tentunya bagi mereka yang merasa dirinya  tidak atau kurang Cantik, maka ia akan berusaha sekuat tenaga dan  meluangkan banyak waktunya untuk mempercantik diri.

Sebelum kita terlampau jauh berbicara tentang Cantik dan segala hal tentangnya, mari sejenak luangkan waktu untuk membahas definisi “cantik”. Dan aku amat yakin terdapat perbedaan diantara kita dalam mengartikan kata “cantik”, Namun sebagian besar orang Indonesia mungkin akan sepakat saat cewek cantik di interpretasikan sebagai sesosok wanita berkulit putih, berambut lurus, tidak berjerawat dan berposturkan cukup tinggi. Kenapa demikian?.

            Arus perkembangan teknologi yang begitu derasnya, sehingga setiap orang begitu mudah mengakses informasi melalui berbagai media, namun tentu yang paling banyak adalah dari media elektronik. Salah satu alasan yang menjadikan media elektronik menjadi komoditi iklan yang sangat diburu oleh produsen berbagai produk. Begitupun televisi.

Tak terhitung berapa menit kita luangkan setiap harinya untuk menonton televisi, dan tentunya sudah berapa banyak iklan yang telah kita lihat.  Dan tanpa sadar ciri sebuah iklan yang persuasif telah berhasil mensugesti kita, mempengaruhi pola pikir kita . Statement kita tentang apa arti cantik telah terpengaruh berbagai iklan yang di cekok-kan setiap harinya lewat televisi. Misalkan saja salah satu produk mengatakan bahwa cantik adalah dengan memiliki kulit putih merona, tanpa ada goresan atau luka. Produk kecantikan yang lain menunjukan bahwa para pria sangat tertarik dengan wanita yang mempunyai rambut lurus dan tampak lembut. pun juga dengan berat badan tubuh,  banyak wanita yang melakukan berbagai cara untuk Diet(menguruskan badan)  karena sebuah produk mengatakan seorang wanita akan lebih cantik jika bertubuh langsing. Dan masih banyak produk kecantikan atau perawatan tubuh yang lain mempengaruhi kita dalam mengartikan kata cantik.

Dan sebagai implikasinya, para wanita yang merasa tidak berkulit putih, tidak berambut lurus, ataupun tidak memiliki berat badan ideal, mereka akan berburu produk-produk yang dapat mempercantik diri mereka. Meski mereka mungkin juga sebenarnya menyakini bahwa kulit putih  model iklan yang ditampilkan  dalam sebuah produk tidak dikarenakan karena memakai produk itu, melainkan faktor genetis. Para konsumen sebenarnya mungkin juga menyadari bahwa rambut lurus bintang iklan sebuah shampo bukan akibat memakai shampo yang dia iklankan, tapi rambut itu  hasil perawatan mahal di salon. Tapi para konsumen terlanjur kepincut dengan produk kecantikan itu demi mendapatkan predikat cantik .

Ada seorang remaja yang enggan masuk sekolah hanya dikarenakan  ada sebiji jampu jerawat dimukanya.  Atau ada pula seorang gadis yang tidak jadi  kuliah hanya karena   giginya agak tonggos.  Sedangkan ada anak yang hanya lulusan sekolah Dasar begitu PD  (percaya diri) lalu lalang dengan dandanan menor. Seakan ia tak peduli lagi berpendidikan rendah, asal bisa tampil wah .  Hal serupa berlaku pada laki-laki. Tak sedikit lelaki yang Cuma mengurusi tampilan fisiknya. Dan pria seperti ini biasa disebut metroseksual.

                   Tanpa sedikit-pun ada maksud  untuk merendahkan, bukankah banyak diantara public figure artis Indonesia yang menjadi orang terkenal meski mempunyai kekurangan secara fisik. Sebut saja Omas, seorang pelawak yang dikenal memiliki gigi tonggos. Andai saja dia merasa minder untuk tampil di depan banyak orang maka ia tidak akan seterkenal sekarang. Atau

Dengan cara pandang seperti ini(kecantikan/ketampanan  adalah prioritas ), terkadang kita mengabaikan bagian-bagian lain dari kehidupan ini yang sebenarnya lebih penting. Tak ada motifasi lebih dalam mengejar prestasi di dunia pendidikan, tidak ada ketertarikan dalam memberikan kontribusi atau manfaat terhadap masyarakat disekelilingnya, dan mengabaikan aspek sosialnya.

Disaat remaja seusia kita di Negara-negara maju seperti Jepang, Amerika dan Inggris sedang sibuk melakukan riset membuat robot, menciptakan bahan bakar yang ramah lingkungan, mendesign gaun yang inovatif, mengarang buku, dan lain sebagaianya , pemuda di Negara Indonesia kita tercinta masih sibuk mengurusi masalah pribadinya. Memperindah tampilan fisik. Ironis kan ?

Kita bangsa Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang tertinggal, bangsa yang tak pecus mengurusi karunia tuhan yang begitu melimpah, jika cara pandang generasi mudannya tak berorientasi sedikitpun pada kemajuan iptek dan peduli terhadap kondisi social kemasyarakatan . Kita begitu gemar mengjkritisi tingkah-polah pemerintah dengan semua kebijakanya, karena beranggapan tidak berpihak pada kita. Hal ini terlalu jauh mengingat  kita sendiri belum ada  upaya ambil bagian memajukan bangsa ini. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, dari cara pandang kita terhadap hal-hal sepele sekalipun.

Bagi kita yang masih percaya dengan tuhan dan tentu beserta kitab suci-NYA Al-Qur’an disebutkan , bahwa kedudukan kita disisi Allah tak diukur dari seberapa cantik atau seberapa tampan kita, atau seberapa langsing kita, melainkan keimanan dan ketakwaanlah yang menjadi tolak ukur kedudukan kita disisi Allah.

                  Tak ada lagi alasan malu tampil di depan umum untuk berprestasi. Buang jauh perasaan minder karena kurang cantik atau merasa tidak cukup ganteng. Karena perasaan seperti itu akan menghalangi kita untuk maju, untuk memberikan kontribusi lewat karya nyata kepada bangsa kita.

sekolah gajah

Ungkapan “ Ayam Mati Di Lumbung Padi” seakan teramat tepat menggambarkan kondisi bangsa indonesia sekarang ini. Di negara tempat tumbuh subur aneka tetumbuhan ini masih begitu mudah di temui orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Di  tempat yang minyak bumi dan gas alam tersedia dalam jumlah yang sangat besar ini, masyarakatnya masih  jauh dari kata makmur. Sebagai contoh nyata, masarakat pesisir pantai yang hidup dengan segala keterbatasan. Bukankah di negri yang luas lautanya melebihi luas daratanya ini , lautanya menyimpan kekayaan yang tak ternilai.   Sungguh Sebuah ironi yang tak berujung.

Hasil Kekayaan bangsa ini hanya dirasakan oleh sejumput orang saja,dan ironisnya lagi dari sejumput orang itu kebanyakan bukan dari bangsa kita sendiri. Kita seolah menjadi budak dirumah kita sendiri. Menjadi bahan perahan bangsa lain yang mungkin lebih mampu mengolah SDA ini, yang mungkin disebabkan faktor kualitas Individu mereka.

 Seorang ulama yang juga penyair MH Ainun najib atau yang biasa dipanggil cak Nun pernah berujar “ keterpurukan bangsa ini, disebabkan ketidakmampuan bangsa ini mengakui bahwa bangsa ini memang sudah sangat terpuruk”. Para penguasa bangsa ini seakan tetap beromantika kejayaan masa lalu, mereka tetap meyakini bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang makmur, atau dalam bahasa lain diungkapkan dengan “Gemah Rimpah loh jinawi”. mereka  seakan belum bisa  menerima kenyataan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya merasakan kekayaan bangsanya. Bahkan pemerintah dengan jumawa mengatakan bahwa perekonomian di negri ini dari tahun-ketahun mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Tidak-kah tampak nyata  penderitaan jutaan masyarakat Indonesia..!!

Salah satu faktor yang mungkin menjadi akar permasalah ini adalah lemahnya kualitas SDM  indonesia. Pendidikan di indonesia belum terbukti mampu mengangkat keterpurukan yang telah berlangsung begitu lama di negri ini. Bahkan pendidikan di Indonesia  seakan mengarahkan para peserta didik menjadi pribadi yang destruktif. Seorang tokoh bahkan mengatakan bahwa “pendidikan Indonesia tak ubahnya sekolah  gajah”.  Kenapa demikian???.

Gajah dikenal sebagai binatang yang sangat protektif terhadap tempat tinggalnya. Ketika ada seseorang yang mencoba merusak hutan yang merupakan tempat tinggal para gajah, gajah akan menyerang orang tersebut. Bahkan tak jarang para gajah tersebut akan menyerang dan merusak perkampungan tempat perusak hutan itu tinggal. Namun manusia sebaagai tokoh antagonis dalam cerita ini tidak kehabisan akal. Gajah-gajah di hutan  ditangkarkan dan dijinakan, di didik disebuah tempat yang bernama “sekolah gajah”. Mereka (para gajah; red) diajari bagaimana harus patuh terhadap manusia, dan yang paling mencengangkan gajah diajari bagaimana merusak habitat mereka sendiri. Para gajah digunakan para perusak hutan itu untuk mengangkut kayu-kayu hasil jarahan hutan. Dan hal ini pula yang terjadi pada pendidikan Indonesia…!!!!

Aku yakin tak ada satupun sekolahan atau oknum guru manapun yang mengajarkan para peserta didiknya untuk menjadi seorang pribadi yang buruk. Aku pastikan mereka semua (para guru; red) pasti menginginkan para anak didiknya sukses dalam kehidupanya. Namun bukankah para koruptor itu bergelar sarjana, magister, doctor, atau bahkan profesor ?, bukankah para penjahat itu banyak yang telah mengenyam pendidikan sekolahan bertahun-tahun. Ah,,,,,itu mungkin terlalu jauh.

 Para sarjana pendidikan setelah lulus kuliah akan mendaftar menjadi guru di sekolah-sekolah tertentu. Bagi mereka yang beruntung, tidak lama setelah mengajar ada yang langsung menjadi PNS dengan gaji yang lumayan banyak. Bandingkan jika para sarjana pendidkan itu mengajar di sekolah bertahun-tahun namun tak jua menjadi PNS, mereka akan berusaha sebisa mungkin menjadi PNS. Salah satu cara kotor yang belakangan ini sering terjadi adalah praktik suap dalam ujian penjaringan PNS. Bukankah mereka korban dari sistem pendidikan Indonesia ???. mungkin tidak.

Tidak jarang diberitakan di beberapa media seorang oknum guru ataupun kepala sekolah mengkorupsi dana pendidikan.  Mereka orang berpendidikan kan??? Lantas dimana perbedaan kita dengan gajah ???. dimana letak perbedaan pendidikan kita dengan pendidikan para gajah ???.

Ini celotehanku, mungkin aku terlalu hyper-realita. Semoga saja tidak demikian adanya. Terima kasih.

Aktualisasi peran mahasiswa

BERATKAH PERAN MAHASISWA?

By : Habibur Rohman*

Tanggal 6 dan 9 agustus 1945 mungkin adalah sebuah sejarah kelam bagi Negara jepang. Pasalnya pada tanggal itu dua kota di Negara jepang (Hiroshima dan Nagasaki) luluh lantah akibat bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu. Yang tertinggal  dari sebuah peradaban yang sudah sangat maju kala itu hanyalah puing-puing. Bahkan beberapa pakar berpendapat bahwa dua kota itu baru akan pulih  dari efek radiasi bom atom berpuluh-puluh tahun kemudian. Namun sebuah tindakan fenomenal diambil oleh kaisar jepang kala itu. Bukan berapa banyak harta atau sisa  sumberdaya alam yang ia tanyakan, melainkan “berapa banyak guru yang tersisa di negri kita (jepang)?”. Karena kaisar berkeyakinan dengan guru yang tersisa dia akan membangun kembali peradaban yang telah hancur. Dengan segelintir guru yang tersisa hal yang akan diprioritaskan untuk dibangun terlebih dahulu bukanlah  rumah atau semacamnya.  melain PENDIDIKAN.

Mungkin di Negara kita Indonesia hal semacam itu tak pernah terjadi, tapi setidaknya kita dapat mengambil sebuah pelajaran dari kejadian tersebut, begitu penting dan berharganya pendidikan. Terbukti, kurang dari 30 tahun jepang telah bangkit dari keterpurukan, bahkan menjadi sebuah Negara dengan potensi sumberdaya manusia yang   sangat maju dengan produk-produk teknologi modern.

Sudahkah Negara kita menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam upayanya mengatasi keterpurukan. Keterpurukan  yang telah terjadi selama bertahun-tahun di negri tempat dimana tumbuh subur berbagai tumbuhan, dan sebuah negri yang kaya raya akan sumber daya alam. Dan sudahkah mereka para insan terdidik ikut ambil bagian dalam upaya mengentaskan keterpurukan ini?. Terlebih bagi mereka yang bergelar  MAHASISWA.  Sebuah predikat yang tak banyak orang pernah menyandangnya, sebuah alasan yang bisa dijadikan penguat bahwa predikat MAHASISWA memang prestisius.

Tidakkah kita menyadari bahwa Sejarah telah mencatat adanya  perubahan-perubahan besar yang pernah terjadi pada suatu bangsa, pasti didalangi oleh pemuda (juga mahasiswa) bangsa tersebut. Satu contoh yang masih hangat dalam sejarah bangsa kita adalah Reformasi ’98. Salah satu poin penting yang bisa kita renungkan dari peristiwa ini  adalah, perubahan itu datangnya dari golongan elit. Jumlah mereka tak banyak, tapi mereka mempunyai pengaruh yang  besar. Hal itu tak lain dikarenakan kualitas (mungkin pendidikan/intelektual) mereka.

Lantas Salahkah jika bangsa ini berkeyakinan, bahwa salah satu partikel yang bisa menghembuskan angin perubahan atau setidaknya sedikit mampu menghambat laju kerusakan di negri ini adalah  MAHASISWA?, TIDAK. Setidaknya ada 3 peran mahasiswa yang sebenarnya bila dioptimalkan mungkin bisa mewujudkan harapan bangsa ini, yakni Agent of change, agent of  control, serta agent of power. Dan mahasiswa tidak mempunyai hak mengelak dari peran ini.

Terlalu beratkah peran yang dibebankan kepada MAHASISWA?. Jika melihat tingkat intelektual dan semangat (yang seharusnya progressive serta revolusioner) serta sedikit mengaca pada sejarah, memang sepantasnya peran itu diembankan.

Dengan ekspektasi masyarakat seperti ini pantaskah seorang mahasiswa  merasa cukup dengan raihan IP yang tinggi saja. Terserah kepada mahasiswa bagaimana mengartikan arti  Agent of change, agent of  control, serta agent of power, terserah bentuk tindak lanjut mereka. Namun yang jelas bangsa ini butuh kontribusi nyata, tak hanya nilai IP tinggi yang terukir di lembaran ijazah.

 



sebuah ironi pendidikan bangsa

Tanggal 6 dan 9 agustus 1945 mungkin adalah sebuah sejarah kelam bagi Negara jepang. Pasalnya pada tanggal itu dua kota di Negara jepang (Hiroshima dan Nagasaki) luluh lantah akibat bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu. Yang tertinggal  dari sebuah peradaban yang sudah sangat maju hanyalah puing-puing. Bahkan beberapa pakar berpendapat bahwa dua kota itu baru akan pulih  dari efek bom atom sekitar 50 tahun kemudian. Namun sebuah tindakan fenomenal diambil oleh kaisar jepang kala itu. Bukan berapa banyak harta atau sisa  sumberdaya alam yang ia tanyakan, melainkan “berapa banyak guru yang tersisa di negri kita?”. Karena kaisar berkeyakinan dengan guru yang tersisa dia akan membangun kembali peradaban yang telah hancur. Lewat guru yang tersisa hal yang akan diprioritaskan untuk dibangun terlebih dahulu bukanlah gedung atau rumah, melain PENDIDIKAN.

Mungkin di Negara kita Indonesia hal semacam itu tak pernah terjadi, tapi setidaknya kita dapat mengambil sebuah pelajaran dari dari kejadian tersebut, begitu penting dan berharganya pendidikan. Terbukti, kurang dari 30 tahun jepang telah bangkit dari keterpurukan bahkan menjadi sebuah Negara dengan potensi sumberdaya manusia yang   sangat maju dengan produk-produk teknologi modern.

Sudahkah Negara kita menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam upayanya mengatasi keterpurukan yang telah terjadi selama bertahun-tahun di negri tempat dimana tumbuh subur tanaman ini, sebuah negri yang kaya raya akan sumber daya alam ini. dan sudahkah kita sebagai insan terdidik ikut ambil bagian mengantarkan bangsa ini melangkah dari jurang ketertinggalan da keterpurukan yang sudah teramat dalam ini.

my Village

          Tak banyak orang yang tau nama jatikalen, sebuah kecamatan kecil yang terletak di bagian paling timur kabupaten nganjuk (atau mungkin beberapa orang juga masih asing dengan nama kabupaten nganjuk). Disebuah desa kecil di kecamatan jatikalen ini pula aku terlahir, tepatnya bernama desa gondang wetan. Sebuah desa yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Hamparan tanah nan subur tak sedikitpun dibiarkan oleh para penduduk desaku, setiap jengkal tanah menjadi media mereka untuk mengais rezeki dan mengabdikan diri menjaga kelestarian lingkungan. Namun tampaknya mata pencaharian mengurus karunia tuhan itu kini mulai sedikit diabaikan atau bahkan dianggap kurang menjanjikan oleh para pemuda.
Tampaknya aku terlalu terburu-buru dalam menceritakan betapa indah dan menariknya desaku, karna aku beranggapan masih banyak hal simple yang terlebih dulu bisa aku ceritakan (atau dalam bahasane mas adib “bisa aku narasikan”). Aku akan ceritakan terlebih dahulu tentang letak geografis desaku. Sebagaimana diawal tadi aku ceritakan bahwa desaku terletak di kecamatan jatikalen yang merupakan kecamatan paling timur kabupaten nganjuk, itu artinya kecamatanku berbatasan langsung dengan kabupaten jombang. Meski begitu aku tak rela jika orang-orang desaku dikatakan sebagai orang pinggiran, meski dibagian utara desaku merupakan kawasan hutan (yang dulunya cukup lebat), peradaban masyarakat desaku terbilang cukup maju, dan tak kalah jika dibandingkan dengan masyarakat perkotaan seperti Long Angles, London, Sidney juga kota-kota maju lainya (rodok guyon titik).
Meski terletak agak dekat hutan jangan pernah bayangkan bahwa desaku penuh kekurangan (layaknya desa–desa tertinggal dikabupaten trenggalek). Akses menuju desaku sangatlah mudah, jalan-jalan menuju desaku kesemuanya sudah merupakan jalanan aspal hotwheel. Tak heran jika hampir semua masyarakat desaku telah memiliki kendaraan bermotor, baik mobil, sepeda motor, ledok, atau bahkan becak mesin,,,hehehehehe. Hilangkan bayangan bahwa desaku belum terjamah listrik sebagaimana daerah-daerah pinggir hutan pada umumnya, karna listrik telah masuk kedesaku jauh sebelum Borobudur dibangun. Perangkat komunikasi telah begitu mudah diakses juga ditemukan pada masyarakat desaku. Orang lalu lalang dengan membawa hape, ipod, ataupun laptop sudah menjadi pemandangan yang sangat mudah ditemukan. Hampir semua jaringan telepon seluler telah masuk desaku (kecuali yang belum).
Jangan tergesa-gesa membahas masalah perekonomian, politik atau bahkan keagamaan masyarakat desaku dulu. Izinkan aku ceritakan terlebih dulu potensi-potensi sumber daya manusia yang ada di tanah kelahiranku. Tak pernah kupungkiri jika masyarakat desaku, terutama para orang-orang tua memiliki pendidikan yang rendah, namun tampaknya tuhan telah menganugrahkan kepada mereka kemampuan mengolah lahan pertanian yang luar biasa. Tanah yang dulunya tandus telah mereka sulap menjadi hamparan padi nan subur, tanah berbatu juga dirubah menjadi sebuah tanah dengan untaian dedaunan hijau. Tak seperti daerah-daerah lain yang memiliki Sentra kerajinan tangan atau semacam home industry, di desaku tempat seperti itu sangat jarang sekali ditemukan. Bukan karena mereka tak mempunyai daya kreatif untuk membuat kerajinan tangan, tapi terlebih dikarenakan hanya dari pertanian secara intensif saja mereka telah mendapatkan keuntungan financial yang melimpah. Selain juga ditunjang oleh factor keyakinan bahwa bertani adalah sebuah kearifan dengan alam. Namun rantai-rantai fanatisme terhadap bertani tampaknya mulai pudar. Bukan karna kearifan dengan alam telah hilang dari diri masyarakat desaku, namun sector usaha-usaha lain tampaknya telah menggoda dan meruntuhkan tirani petani.
Letak desaku yang berdekatan dengan kabupaten jombang tampaknya menjadikan kebudayaan didaerahku cenderung mirip dengan masyarakat jombang pada umumnya. Hal ini bisa dilihat dari logat atau cara bicara, jika orang nganjuk lazimnya menggunakan istilah “to” maka orang desaku kebanyakan menggunakan istilah “se”. semisal kalau orang nganjuk kebanyakan mengatakan “piye to”..?, maka aku mengatakanya “piye se”..?. juga dalam menyebutkan beberapa istilah atau nama benda, masyarakat desaku lebih terpengaruh kebudayaan jombang.
Jika diatas aku mengatakan bahwa kebanyakan para orang tua didesaku berpendidikan rendah hal itu tidak dikarenakan karna kurangnya fasilitas pendidikan. Perlu kalian semua ketahui desaku telah ada beberapa institusi pendidikan formal mulai TK, SD, SMP, juga SMA. Hal itu lebih dikarenakan kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Selain juga ditambah factor empiric yang mengatakan bahwa tanpa sekolah pun mereka bisa sukses, kaya raya. Untuk sukses mereka hanya perlu belajar dari alam, karena alam telah menyediakan segalanya untuk mereka. Namun dalam beberapa kurun tahun terakhir tampaknya kesadaran akan pentingya sekolah, terlebih pendidikan formal mulai menggelora dalam diri para pemuda.
Beberapa orang mungkin berfikiran lebih enak terlahir di daerah yang penuh kemewahan, ataupun terlahir dikota. Namun pikiran-pikiran seperti itu tak pernah sedikitpun terlintas dalam diriku, ku selalu panjatkan untaian syukur yang tak terhingga, aku telah dititipkan dibumi yang subur, dengan hembusan angin yang senantiasa membawa kedamaian hidup.
Agama mungkin pembahasan yang tepat untuk selanjutnya aku ceritakan. Didesa tempat aku terlahir tak satupun insan bernyawa yang secara harfiah tidak mengakui bahwa ALLAH adalah tuhan mereka. Itu artinya di desaku bisa dikatakan 100% penduduknya beragama islam. Namun ku tak mengatakan bahwa nilai-nilai islam telah berlaku didesaku. Jika orang dikatakan muslim yang ta’at ketika dia telah menjalankan sholat 5 waktu, maka orang-orang desaku sedikit sekali yang menyandang predikat tersebut. namun orang-orang desaku adalah orang yang masih memegang teguh tradisi(terkadang melebihi agama itu sendiri). Begitu mudah ditemui orang –orang berQurban di raya idul adha, bukan karena mereka berkeyakinan bahwa Qurban adalah amal yang dianjurkan oleh agama islam, namun selama ini tradisi mereka adalah ketika seseorang telah berqurban maka ternaknya akan melimpah. Begitupun saat dibulan Ramadan begitu banyak orang yang bersedekah ataupun member ta’jil kepada kepada orang lain, sekali lagi bukan karena berlandaskan motivasi agama, namun selama ini para pendahulunya melakukan hal tersebut.
Kalau selama orang-orang beranggapan bahwa hanya orang-orang berpendidikan tinggilah yang mampu berpolitik, maka hal itu telah dipatahkan dalam system pemerintahan desaku. Jika selama ini banyak yang berkeyakinan bahwa yang berkemungkinan melakukan kecurangan dalam sisitem perpolotokan hanya para intelektual yang tak bermoral maka anggapan itu telah diruntuhkan oleh system masyakat desaku.

             Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kuceritakan tentang surga tempata aku terlahir, namun karena padatnya jadwal penulis sebagai mahasiswa, maka sementara aku cukupkan sampai disini…….
To be continue……

memory

Masa-masa Indah Kala ku menjadi Bagian mu

Ku tak tau harus mulai dari mana, sebuah cerita indah yang ingin ku urai dalam 2 tahun kebersamaan kita, Masa-masa indah di kelas bahasa. Mulai saat dimana kita dipertemukan di ruang kelas sempit nan bau (dekat WC), sampai saat hamparan luas perguruan tinggi memisahkan kita, saat dimana kita terpisah karena impian kita masing-masing. Meski tak sedikit sendu menghiasi hari-hari kebersamaan kita, tapi kebersamaan itu akan menjadi memori yang terlalu indah untuk dilupakan.
Hem,,,jadi pengen balik Aliyah lagi nich. Untuk menyegarkan kembali ingatan tentang betapa unik dan menariknya Satwa-Satwa bahasa, kiranya perlu mengenal lebih jauh tentang koleksi Satwa yang dimiliki bahasa. Gimana kalau kita mulai dengan satwa jantan terlebih dulu (Betina; rahayu, Wp,mamake,ainin, luluk, ragil, Nia, farida dkk sabar ya). Kalau kita bicara masalah bahasa , tentulah selalu identik dengan orang yang satu ini, dialah MARKEMON,,,, (kayaknya dibuku absent gak ada dech nama itu). Eits lupa,,,, M.sholihudin….. amin !!!!! sesuai namanya cowok yang satu ini Sholeh abiezz (jerene ibuk’e). meski tampan(preet),cool , amin adalah sesosok yang gak banyak tingkah( wedi luwe). Selama menjadi bagian dari kelas bahasa berbagai penghargaan telah ia persembahkan, mulai dari menjadi finalist kartono-kartini 2007, lomba masak, balap karung, kapten tim basket juga sepak bola bahasa, sampai yang paling fantastis adalah penghargaan untuknya sebagai siswa paling sering nebeng (golek berangan budal sekolah). Jika ditanya masalah pesona, beee,,,, yang satu ini memang paling pinter. Terbukti banyak cewek-cewek yang klepek-klepek(setelah cium aroma tubuhnya)…heheheheh,,, peace!!!! Pria kelahiran bojonegoro ini dipercaya teman-teman sebagai ketua kelas XI bahasa (tapi kalo menurutku temen2 milih karna ngesakne).
Next, gak pantas rasanya jika yang satu ini diperkenalakan belakangan. Selain usianya yang paling sepuh (seng MBAU REKSO) dialah ketua kelas XI bahasa sebelum akhirnya di kudeta amin, dia akrab disapa dengan sebutan “Mbah” , nama aslinya adalah Lutvi Rohman. ya,,, dia memang pria yang dianugrahi talenta luar biasa, berbagai judul film telah ia bintangi. Seperti siksa kubur, tarsan kota , adzab anak durhaka dan tentu yang paling fenomenal adalah aksinya menjadi “fatiroh”. pak soleh guru bahasa inggris sering memintanya untuk menemani mengajar di depan kelas, bukan karena si mbah pinter lo….tapi karna si Engkong sering datang terlambat hingga harus di hukum berdiri di depan kelas. Kasian juga ya,,,,.!. penampilanya yang eksentrik mengingatkan kita pada vokalis grup band radja,,,,lutvi kasela. Pria yang lahir di babilonia 1400 sm ini memiliki rambut yang sangat panjang. Hal ini dikarenakan ia terlalu sibuk beribadah untuk bekal matinya(yang sudah sangat dekat) sehinga tidak sempat untuk sekedar mencukur rambut.
Lanjut,… sebenarnya males rasanya jika harus mengenang kembali orang yang satu ini. Selain gak ada satupun kenangan manis bersamanya, dia juga siswa bahasa yang paling sulit didefinisikan. Pokok’e ancur banget…(tapi tak apalah),
Ahmad farrih muzaky alias jacky (versi p.bisri), onta (versi cayank luluk), atau nidji (versi p.amru). begitu banyak julukan yang dialamatkan kepadanya mungkin menjadikanya gak bisa gemuk,hehehe. Beberapa orang yang masih percaya barokah memanggilnya dengan embel2 GUS. Ya,,,, benar sekali dia masih punya garis keturunan darah biru (wouw, saudaranya cumi-cumi donk), Eky adalah cicit dari Hadrotus syech KH. Al-fattah. Namun gelar itu tak pernah menghalanginya unuk tampil funky (papua), bisa dilihat dari rambutnya. Dan tak sedikit pula dari kalangan artis yang membeo gayanya. Sebut saja giring “nidji” (niru rambute eky). Ada juga lo cewek yang cinlok dengan gus gaul ini, bahkan konon mereka sudah pacaran sejak Mts…..(sopo kuwi). Kala cah bahasa jenuh dengan sulitnya bahasa jepang,rumitnya pelajaran matematika, ato mbuletnya antropologi,eky hadir dengan segala aksi konyolnya yang sedikit bisa jadi hiburan gratis.
Nama selanjutnya ada Abi & irfan. Bukan tanpa maksut menyebutkan dua orang ini secara bersamaan, karena mereka memang saudara kembar,,,hehehehe. Mereka mempunyai begitu banyak persamaan, ibarat kata mereka laksana “Tai ayam dibelah 2”.. Abi & Irfan. Berdasarkan hasil survey majalah tahlil edisi 26 kepada cewek2 bahasa, Abi adalah cowok paling artistic,,, mulai dari gaya berjalan ala cover boy, hingga senyum manis khas yang banyak bikin puyeng gadis-gadis. Tak salah jika begitu banyak cewek yang ngebet banget dengan Abi (pengen nampar). Tak banyak yang tau bahwa abi adalah seorang yang sangat patuh dan loyal kepada ketua kelas, sampai-sampai abi rela antar jemput setiap hari dipondok pak ketua,,,(hem,,,,penakmen blitukane).Begitupun irfan, ketika di MAN Nglawak sudah tidak terhitung berapa banyak cewek ( yang ia klaim) menjadi pacarnya. Setali tiga uang dengan kakaknya (Red; abi) irfan juga sangat pendiam, dicium diam, ditamapar diam, dipuji diam,, dan yang paling penting kalau ditanya guru tentang pelajaran selalu diam,,(gak iso). satu keunikan dari irfan adalah, dalam seminggu ia bisa berulang tahun lebih dari satu kali,,, aneh juga ya. Cowok yang mirip banget dengan irwansyah ini(jere’e bocae diwe) sangat fasih berbahasa jepang, bersama abi dan farida ia menjadi murid kesayangan bu santi.
Kelas bahasa pernah menyandang predikat sebagai kelas para pejabat, hal ini dikarenakan di kelas ini ada ketua osis juga mpk. Dialah m.victor syafi’i,,,, ketua osis 2008. tampaknya darah pemimpin memang mengalir dalam diri victor, karena ayahnya juga seorang kepala desa. bukan tanpa alasan dia terpilih sebagai ketua osis, selain dianugrahi keindahan ragawi juga intelektual dan karisma yang memukau, victor juga tercatat sebagai santi di pondok al-fattah. Artinya pria yang satu ini benar-benar Mr.perfect (jerene cah bajulan). Hal yang paling ditunggu-tungu teman-teman dari victor adalah kala ia membawa pia basah(meskipun BS) . beberapa siswa mengatakan bahwa victor adalah akronim dari VIKiran koTOR,,, ya meski tampak lugu dan soleh, jangan ditanya kalo masalah awewek… langsung pikiran-pikiran jorok metu(.hehehehe,,ojo dianggep guyon).
Pejabat yang satu lagi bernama Achmad Riezal Lazuardi(ARieL).. sang ketua MPK 2008. dialah penganut faham efisiensi bicara, tak banyak kata keluar dari mulutnya,Tak banyak tutur sapa darinya, namun begitu banyak wanita yang terpesona olehnya . Bukan hanya karna dia cantik (eh ganteng),tapi terlebih karna senyum manisnya. yang bikin lemes cewek2,hahahaha. Sekilas kodok mungkin terlihat lemah gemulai, namun jangan kaget kalo dia jago banget jika bermain di olahraga keras khas cowok, seperti sepakbola,basket,volley,tenis, renang,balet juga lompat tali.
Selama di MAN Nglawak ia juga nyantri di pondok Al-fattah, dialah M.Fuad Anwar, alias N-Gage (enek critane diwe nyapo di panggil gitu). Sebuah tingkah unik dari fuad, yakni setiap ada kayu-kayu berserakan langsung dia ambil, begitupun bangku rusak di sekolahan, bukan karena ia mengamalkan sunah Nabi- kebersihan sebagian dari iman- tapi karena kayu-kayu itu ia perlukan buat masak dipondok. itu alasan kenapa bangku di MAN Nglawak sering hilang…..hehehehe. kang Fuad adalah santri yang sangat ta’dzim kepada kiai, dengan sebuah harapan ngalap barokah, untung-untung mbah Qodir mau menjadikanya menantu,,,, hehehehe (gak mungkin kang).
Nama lengkapnya adalah M.ilham Abdulloh, namun biasa disapa abdel. sang playboy kelas berat dari daratan tanjunganom. Menurut kabar burung(burung mati) banyak banget cah Man Nglawak(salah satune mak kantin) yang takluk dengan pesona ilham,. Meski sering bikin onar, ricuh dan kisruh dikelas, tak jarang pula (nek kadung mbeneh) keluar kata-kata bijak darinya.
Cewek yang satu ini menasbihkan dirinya sebagai assisten pribadi ketua kelas (meski sebenarnya jabatan itu gak ada dalam struktur pengurus kelas). Dialah santy dwita sari mewangi sepanjang hari meski gak pernah mandi…. Namun cukup panggil saja gentong. Saking ngefansnya dengan ketua kelas, dia memajang foto amin di dompetnya dan menunjukan kepada ortunya bahwa amin adalah pacarnya (mesakne cah). Meski memiliki tubuh yang atletis(gendut;Red), santi penakut lo,,,. Santi takut banget dengan yang namanya kucing(padahal harimau aja sungkem klo ketemu dia).
Kesepahaman tak sering terjadi di kelas bahasa, namun ketika ditanya siapa cewek cilik diwe, pinter bahasa jepang dan juga lucu??? Maka aku yakin semua akan sepakat bahwa farida-lah orangnya. Cewek yang terlahir di daerah terpencil dikawasan lengkong ini akrab sekali dengan kata-kata “jwing-jwing,,,zet-zet,zet” dan kata-kata gak jelas lainya khas cah ilik,,,,.hohohoho.
Kelas bahasa mungkin hanya terdiri dari 32 siswa, namun jangan salah kalau kelas bahasa terasa begitu sesak. Bukan karna ruang kelas yang terlalu sempit, tapi karna di kelas ini ada beberapa siswa yang memiliki ukuran tubuh ekstra besar ,,,,,hehehehe. Satu diantaranya adalah pasangan truck-gandeng feny dan nurul. Yang mana keduanya tergabung dalam grup vocal yang bernama ďGǎrŎÑģ. Kemampuan Feny dan Nurul dalam bernyanyi sudah tidak ada yang meragukan lagi, sudah tak terhitung berapa album yang telah mereka telurkan, yang seluruhnya meledak. Feny dan Nurul mempunyai ketertarikan yang sama besar di dunia hewan,jika Feny memilih usaha per-pindang-an Nurul lebih memilih usaha per-potong-an (ternak ayam potong).hehehehe.
Meski usianya telah lebih dari satu abad, tak sedikitpun mengurangi semangatnya dalam menuntut ilmu. Dialah yusrotul “mamake” ainin. Bersama mbah lutfi dia menjadi siswa bahasa yang paling disungkani, tidak hanya karna usianya yang tergolong tua, tapi dialah tempat dimana temen2 bisa meminta nasehat, saran, petuah bahkan minta nomer togel. Selama di Man Nglawak beliau juga tercatat aktif sebagai santri pondok sambirobyong. Beliau juga penganut faham nebengisme, sebuah faham yang digagas oleh M.sholihudin amin, dimana diharuskan kepada setiap pemeluknya untuk golek nunutan budal sekolah. Waduch2 golek gratisan ki critane,,,,,

Di barisan selanjutnya ada nama Nur sayidah Wp. (Wp berarti wanita perkasa). Diawal kelas 2 penyakit kerap menyapanya, dan hal itu memaksanya untuk sering tidak mengikuti pelajaran. Namun dikelas 3 kala penyakit mulai jarang menjamahnya dia menunjukan kapasitasnya sebagai seseorang yang dianugrahi kemampuan intelegensi diatas rata-rata..
Meski terlahir dan besar dikota solo, sebuah kota yang terkenal akan lembut dan halus tutur kata masyarakatnya , serta masih menjunjung tinggi batas-batas nilai Feminisme wanita, tak menjadikan Indriasti minangkani putri takut untuk memperjuangkan kesetaraan Gender. Ya,, indri adalah sesosok wanita kecil(item gak manis + ngentutan sisan) yang begitu semangat menyuarakan kesetaraan gender. Baginya semua aktifitas cowok, ia dan wanita-wanita lainya pun bisa melakukanya. Mulai dari panjat pohon kelapa, sepakbola, ngopi, ronda malam, dan aktifitas cowok lainya. Indri pun tampaknya enggan jika harus memakai atribut-atribut khas cewek, apalagi jika harus tampil menor dengan riasan Make Up (wes elek, gak gelem macak sisan,,,,hehehehehe).damai……
Dia tergabung dalam grup vocal yang bernama “lovely trio”. Meski gak begitu terkenal, dia adalah satu-satunya anak bahasa yang bener2 artis( yang lain Cuma “pengen jadi artis”). Suara-suara merdunya kerap mengisi hari-hari di kelas bahasa (radio sokor muni).dia bernama “Umi Koirun Nisa”. Setelah jadi artis terkenal ia kerap terlambat datang kesekolah, menurt penuturan teman-teman hal ini dikarenakan saat dikamar mandi Umi keasikan menyanyi, sehingga gak sadar lo udah kesiangan.
banyak cewek-cewek tangguh dari kelas bahasa, namun satu diantara yang tertangguh adalah Nanik. betapa tidak, untuk mencapai sekolah ia harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilo. Dan hebatnya jarak itu ia tempuh dengan naek sepeda. Lintas kabupaten tak menyurutkan ia untuk datang tepat waktu.

Mas Boy , begitu ia biasa disapa. Berperawakan sixpack, berparaskan selebriti, dan berakhlakan remaja pesantren. Tak salah jika ifa (punk) begitu ngfans denganya.hehehehe Ahmad bayhaqi,,, tinggal disebuah desa yang banyak didiami para penjahat kelamin (pak calak).

Bersama dengan antropologi, matematika menjadi pelajaran UAN yang paling sulit bagi temen-temen bahasa. Namun hal itu tak lantas menjadikan kurangnya minat mengikuti pelajaran matematika. Hal itu tak terlepas dari sosok guru yang satu ini. Beliau tak hanya menjadi guru matematika bagi temen-temen, tapi beliau mampu jadi apa saja .hehehehe. dialah bu Lilik

muharam seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai bulan pertama di tahun hijriah. sebab ada sebuah peristiwa besar yang sebenarnya dapat kita ambil manfaat darinya. yakni HIJRAHnya nabi muhamad. sebuah perjalanan besar yang menjadi tonggak awal perkembangan islam . hijrah bukanlah usaha nabi dalam menghindari siksaan dari bangsa jahilah di arab, tapi terlebih karena bentuk upaya mengoptimalkan peluang dalam mengembangkan agama islam. cara yang sebenarnya bisa diterapkan di era modern ini.to be continue.,….

pendidikan

pendidikan  di indonesia bisa dikatakan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. kenapa tidak, di negri yang kaya raya akan sumber alanya  ini banyak orang-orang yang terpaksa tidak bisa mengenyam dunia pendidikan hanya karna masalah biaya. bukankah pemerintah dalam undang-undangnya telah menjanjikan bahwa akan mencerdasakan kehidupan bangsa.

bukankah jika bangsa ini ingin lebih makmur atau sejahtera aspek yang sangat perlu diperhatikan adalah pendidikan. mungkin kita perlu belajar dari tindakan fenomenal kaisar jepang dalam upayanya memajukan negrinya yang luntuh lantah akibat bom atom dengan jalan mengoptimalkan peran seorang guru untuk kepentingan pendidikan.